Kamis, 17 Mei 2012

Katha Upanisad (6)

LanjutanKaþha Upaniûad (5)

BAB II
Bagian I

ÀTMAN TIDAK BISA DICARI MELALUI INDRIYA

praiÆ %ain Vyt*,t( SvyM.UStSmaTpraNpXyit naNtraTmn( -
kié×¢r" p[TygaTmanmW=dav*Ttc=urm*tTvimC^n( --1--


1. paràñci khàni vyatåóat svayambhùs tasmàt paràò paúyati nàntaràtman: kaú cid dhìraá pratyag-àtmànam aikûad àvåtta-cakûur amåtatvam icchan. 
1. Àtman bukanlah dicari melalui indriya. Si penyebab sendiri memecah pembukaan indriya-indriya ke luar, karena itu seseorang biasanya melihat ke luar dan bukan ke dalam dirinya. Tetapi beberapa orang arif, mencari hidup yang kekal, dengan matanya ditujukan ke dalam, melihat àtman.

  • vyatåóat: memecah. Si penyebab sendiri telah mengatur pembukaan jiwa secara demikian sehingga dia terbuka keluar dan orang jadinya melihat ke luar kepada benda-benda tetapi beberapa jiva yang masuk untuk kearifan rohani menarik perhatian dari dunia, mengalihkan pandangan matanya ke dalam, melihat àtman dan mencapai kekekalan. Ú. berkata bahwa dia mengutuknya atau melukainya kalau kita mengalihkannya ke luar, hiýsitavàn hananaý kåtavàn. Pengamatan demikian yang mengecilkan penggunaan yang seharusnya dari indriya-indriya memberi kesan yang bersifat tidak duniawi dari sebahagian besar usaha-usaha kita yang terbaik. Pendapat Ú. bertolak belakang dengan pandangan yang dikatakan pada bagian sebelumnya bahwa indriya-indriya adalah seperti kuda; yang akan membawa kita kepada tujuan kita, apabila dituntut semestinya. Upaniûad ini menganjurkan pengendalian dan bukan penekanan dari pada indriya. Pencarian rohani mempunyai gerak ke dalam yang membawa kepada wisik  Tuhan pada jiwa yang terdalam. Aspek inilah yang ditekankan pada ayat ini.453 Kita umumnya menempuh hidup ke arah hal-hal yang bersifat ke luar; untuk memperoleh visi kebenaran kita harus membelokkan pandangan kita ke dalam. Lihat Ú. U. III. 18, kita harus membalikkan orientasi alamiah dari kesadaran kita.
    svayambhùá: penyebab sendiri. Bd. causa sui dari Neoplatonisme. Dia yang menyebabkan dirinya atau menghasilkan dirinya adalah berbeda dari hal yang tidak dihasilkan atau yang tanpa sebab. Inilah Tuhan Pencipta dan bukan Brahman tanpa sebab. Lihat Úatapatha Bràhmaóa I.9.3.10; Taittirìya Bràhmaóa III. 123.1. B.U.II.6.3; VI.5.4.
    àvåtta-cakûuá: mata diarahkan ke dalam. Kita menutup mata kita kepada rangkaian fenomena dan mengarahkannya ke dalam kepada kenyataan yang noumenal. Jiwa itu seperti mata. Ketika mata itu berhenti pada benda-benda dunia yang tidak kekal, dia tidak tahu kebenaran dari benda-benda. Ketika dia menengok ke dalam dan berhenti pada kebenaran dan àtman, dia memahami kebenaran. 
  • Plato mencanangkan tujuan pendidikan, sebagai “membalikkan” jiwa. Dalam pengandaiannya yang termasyur tentang goa, Plato membandingkan mereka yang miskin akan kebijakan falsafah sama sebagai tawanan di dalam goa yang hanya bisa melihat ke satu jurusan. Mereka terikat dengan api dibelakangnya dan dinding di depan. Mereka melihat bayangan-bayangan dirinya dan bayangan-bayangan di dinding dari obyek di belakang karena sinar dari api. Mereka menganggap bayangan-bayangan ini sebagai sesungguhnya dan tidak mempunyai pikiran tentang obyek dalam pengertian yang sesungguhnya. Akhirnya seorang arif bisa lepas dari goa dan melihat sinar matahari. Dia melihat benda yang sebenarnya dan baru sadar bahwa tadinya dia dikelabui oleh bayangan.
  • Bd. Phaedo: “Jiwa, pada saat mempergunakan raga sebagai alat untuk mengerti atau dengan kata lain ketika mempergunakan indriya pengelihatan atau pendengaran atau indriya yang lain adalah sesungguhnya diseret oleh badan ke alam yang tidak kekal, berputar-putar dan bingung. Tetapi ketika kembali kepada dirinya sendiri, dia merenung, dia pergi ke dunia yang lain, dunia yang murni, kekal, tidak berubah, yang merupakan asalnya dan dengan mereka dia akan hidup selamanya bila dia menjadi dirinya sendiri dan tidak terganggu; kemudian dia mundur dari jalannya yang salah dan karena bersatu dengan yang tidak berubah maka dia juga akan tidak berubah. Dan keadaan jiwa seperti inilah yang disebut kearifan”.
  • Descartes menekankan perlunya untuk berpaling dari wujud luar dan bangun ke arah realitass rohani yang diperlihatkan oleh pengetahuan tentang jiwa. Hanya saja kalau Upaniûad ini menganjurkan kita untuk bangun di atas kecerdasan ke dalam pandangan di mana kita akan diilhami oleh kebenaran yang memang sudah ada dalam jiwa, Descartes menganjurkan kita untuk mengetahuai kebenaran dengan melalui akal. 
  • Upaniûad ini menunjukkan bahwa Tuhan ini lebih terwujud pada jiwa manusia daripada di dunia luar. Karena itulah ini memerlukan pembalikan semangat menuju kepada yang di dalam diri.


praiÆ" kamannuyiNt balaSte m*TyoyRiNt ivttSy paxm( -
Aq /¢ra Am*tTv' ividTva /[uvm/[uveiZvh n p[aqRyNte --2--


2. paràcaá kàmàn anuyanti bàlàs te måtyor yanti vitatasya pàúam, atha dhìrà amåtatvaý viditvà dhruvam adhruveûv iha na pràrthayante. 
2. Mereka yang pikirannya picik akan mencari kenikmatan di luar. Mereka berjalan di atas perangkap kematian yang luas. Akan tetapi, mereka yang arif, dengan pengertiannya mengenai kekekalan hidup, tidak akan mencari hal yang langgeng ini.


yen åp' rs' gN/' xBdan( Spxa|é mWqunan( -
EtenWv ivjanait - ikm] pirixZyte - EtÜW tt( --3--


3. yena rùpaý rasaý gandhaý úabdàn sparúàýú ca maithunàn, etenaiva vijànàti, kim atra pariúiûyate: etad vai tat. 
3. Hal-hal dengan apa (seseorang mengerti) tentang bentuk, rasa bau dan suara dan juga sentuhan cinta, maka hanya dengan hal itu jugalah dia akan mengertikannya. Apakah yang masih (belum diketahui tentang hal ini)? Begitulah keadaan sesungguhnya.

  • Apa saja diketahui oleh àtman dan tidak ada yang tidak dikenal-Nya. Sarvam evatvàtmana vijñeyam yasyàtmano ‘vijñeyam na kiñcit pariúiûyate, sa àtmà sarvajñaá, Ú. Walaupun àtman tidak terwujud sebagai obyek, dia selalu ada dalam semua pengalaman sebagai subyek. Dia menjadi dasar dari semua kemungkinan berpikir, dari semua perbuatan pengetahuan. Sebagai kata Ú dia membuktikan dirinya sendiri, svasiddha: sebab bahkan mereka yang menolak hal ini tetap mempunyai anggapan tentang hal ini.


Svp{aNt' jagirtaNt'co.O yenanupXyit -
mhaNt' iv.umaTman' mTva /¢ro n xocit --4--


4. svapnàntaý jàgaritàntaý cobhau yenànupaúyati. mahàntaý vibhum àtmànam matvà dhìro na úocati. 
4. Hal melalui apa orang memahami keadaan dalam mimpi dan keadaan terjaga setelah mengetahui (hal itu) sebagai àtman yang agung dan yang berada di mana-mana, orang yang ini tidak akan pernah bersedih.

  • svapnàntam: keadaan mimpi. Secara harfiah berarti akhir mimpi. Dikatakan bahwa biasanya pada akhir mimpi, sebelum terjaga atau tidur, kita menangkap àtman yang merupakan subyek yang murni. Ini adalah keadaan pada saat kita bermimpi bahwa kita mimpi.



JIWA INDIVIDU ADALAH SATU DENGAN YANG SEMESTA


y —m' m?vd' ved AaTman' j¢vmiNtkat( -
¡xan' .Ut.VySy - n tto ivjuguPste - EtÜW tt( --5--


5. ya imam madhvadaý veda àtmànam jìvam antikàt, ìúànam bhùta-bhavyasya, na tato vijugupsate, etad vai tat. 
5. Dia yang mengerti àtman ini, yang merasakan pengalaman sebagai jiwa yang hidup dekat dengan penguasa yang lalu dan yang akan datang, seseorang tidaklah akan pergi dari-Nya. Begitulah keadaan sesungguhnya.

  • madhv-ada: yang mengalami. Arti harfiahnya, pemakan madu penikmat dari buah perbuatan, karma-phala-bhujam. Ú.


y" pUv| tpso jatmÙ)" pUvRmjayt -
guha' p[ivXy itîNt' yo .Utei.VyRpXyt EtÜW tt( --6--


6. yaá pùrvaý tapaso jàtam adbhyaá pùrvam ajàyata, guhàm praviúya tiûþhantam yo bhùtebhir vyapaúyata etad vai tat. 
6. Dia yang terlahir pertama dari tapa, yang lahir pertama dari air, yang berdiri, setelah memasuki tempat rahasia (di jantung) dan melihat ke mana-mana melalui makhluk-makhluk. Begitulah keadaan sesungguhnya.

  • Yang dimaksud oleh naskah ini adalah Hiraóya-garbha, yang juga disebut dalam beberapa Upaniûad yang lain. Tidak ada pendapat di sini mengenai ketidakbenaran dari evolusi kosmis. 
  • adbhyaá: air yang dimaksud mùla prakåti, aspek dari Yang Maha Tinggi yang tetap ada ketika sinar puruûa mundur ke dalam dirinya. Bd. C.U.VII. 10.1; B.U. V.5; A.U.I.1-3; K.U. 1.7.


ya p[a,en sM.vTyiditdeRvtamy¢ -
guha' p[ivXy itîiNt - ya .Utei.VyRjayt - 
EtÜW tt( --7--


7. yà pràóena sambhavaty aditir devatàmayì, guhàm praviúya tiûþhantì, yà bhùtebhir vyajàyata: etad vai tat. 
7. Dia yang bangkit bersama yang hidup, Aditi, jiwa dewata, yang berdiri, setelah masuk ke dalam tempat rahasia (di jantung), yang terlahir bersama makhluk-makhluk di sini. Begitulah keadaan sesungguhnya.

  • Aditi (a-diti, tidak diikat, tanpa ikatan) dianggap sebagai ibu dari para dewata; sarva-devatà-mayì sarva-devàtmikà. Ú. pengertian ini dipakai di sini untuk ibu pertiwi.455 prakåti, sumber segala obyektivitas. Ú. mengartikannya dari akar kata ad, memakan, dan menjadikan aditi sebagai pemakan atau yang mengalami semua obyek. “terlahir dari brahman Yang Maha Tinggi sebagai pràóa, yaitu dalam bentuk Hiraóya-garbha”. Hiraóya-garbhasya eva viúeûaó-àntaram àha. À.

ArNyoinRihto jatveda g.R —v su.*to gi.R,¢i." -
idve idv ¡@)o jag*viÙhRivZmiÙmRnuZyei.rig{" - 
EtÜW tt(  --8--


8. araóyor nihito jàta-vedà garbha iva subhåto garbhióìbhiá: dive diva ìðyo jàgåvadbhir haviûmadbhir manuûyebhir agniá: etad vai tat. 
8. Api Agni yang mengerti semua, tersembunyi dalam pemantik api, seperti janin yang dilahirkan dengan baik oleh perempuan yang hamil, seharusnya dia dipuja setiap hari oleh orang yang menaruh perhatian dengan sesajen. Demikianlah keadaan sesungguhnya.

  • Ayat ini dikutip dari Sàma Veda I.8.7; lihat juga R.V. III.29.2.
  • Baik puruûa maupun prakåti, subyek dan obyek yang diidentifikasikan dengan Yang Maha Tinggi, sebab kedua-duanya adalah gerak dari diriNya.
  • araóyoá: diantara pemantik api atas dan bawah: uttaràdhar-àraóyoá, Madhva. 
  • nihitaá: tersembunyi, nitaràý sthitaá.


ytéodeit xuyoR ASt' y] c gC^it -
t' devXsveR_ipRtaStdu naTyeit kén - EtÜW tt(
 --9--


9. yataú codeti úuryo astam yatra ca gacchati, taý devaú sarve’rpitàs tadu nàtyeti kaú cana: etad vai tat. 
9. Dari mana matahari terbit dan di mana dia terbenam; di sanalah semua dewata bisa diketemukan dan tidak ada orang yang bisa melampaui tempat itu. Begitulah keadaan sesungguhnya.

  • Lihat Atharva Veda X. 18.16. B.U.I.5. 23.
  • Semua dewata Veda diakui oleh Upaniûad tetapi dikatakan semuanya mendapatkan kehidupan dari Yang Tunggal. Pada mantra 5 – 7 jiwa yang hidup jiwa dari alam semesta, yang tidak terbatas disamakan dengan brahman; pada ayat 8-9, Api dan Matahari dikatakan memperoleh realitass mereka dari brahman; devàs àtman pratishita iti. R.


KELAHIRAN KEMBALI TERJADI KARENA KEGAGALAN UNTUK MEMAHAMI INTI KEMANUNGGALAN DARI WUJUD


ydeveh tdmu] - ydmu] tdiNvh -
m*TyoSs m*Tyumap{oit y —h nanev pXyit --10--


10. yad eveha tad amutra, yad amutra tad anviha, måtyos sa måtyum àpnoti ya iha nàneva paúyati. 
10. Apa saja yang ada di sini, pasti ada di sana. Apa saja yang ada di sana, pasti ada di sini. Barang siapa mengertikan segala sesuatunya di sini sebagai kejamakan, akan pergi dari satu kematian kepada kematian berikutnya.


mnsWvedmaPtYy' neh nanaiSt ikÆ -
m*TyoSs m*Tyu' gC^it y —h nanev pXyit --11--


11. manasaivedam àptavyaý neha nànàsti kiñ cana: måtyos sa måtyuý gacchati ya iha nàneva paúyati. 
11. Dengan pikiran saja hal ini bisa diperoleh. Tidak ada keanekaragaman di sini. Barang siapa mengertikan sesuatunya di sini sebagai kejamakan, akan pergi dari satu kematian kepada kematian berikutnya.

  • Dalam kedua ayat ini Yang Maha Tinggi dimaksudkan sebagai tidak punya perbedaan apapun. Kejamakan dunia tidaklah menyentuh Yang Maha Tinggi



TUHAN YANG ABADI BERSEMAYAM DI DALAM DIRI


A½uîma]" puäzo m?v AaTmin itîit -
¡xano .Ut.VySy n tto ivijguPste - EtÜW tt( --12--


12. aòguûþha-màtraá puruûo madhya àtmani tiûþhati: ìúàno bhùta-bhavyasya na tato vijigupsate: etad vai tat. 
12. Makhluk sebesar jempol bersemayam dipertengahan ruang tubuh. Setelah memahami dia yang merupakan penguasa yang lampau maupun yang akan datang, seseorang tidak akan meninggalkan-Nya. Begitulah keadaan sesungguhnya.

  • anguûtha-màtra-puruûa; makhluk sebesar jempol. Taittirìya Àraóyaka X.38.I; Ú.U. III/13; V.8; Maitrì VI.38.
  • Pada ceritera Sàvitrì dikatakan bahwa Yama, dengan kasar telah mengeluarkan dari tubuh Satyavàn, makhluk sebesar jempol diikat pada perangkapnya dan dibawa dalam penguasaannya.456 Lihat B.U.I.5. 23; Wahyu 1.8.


A½uîma]" puäzo Jyoitirva/Umk" -
¡xano .Ut.VySy s EvaÛ s £ ë" - EtÜW tt( --13--


13. aòguûþha-màtraá puruûo jyotir ivàdhùmakaá: ìúàno bhùta-bhavyasya sa evàdya sa u úvaá: etad vai tat. 
13. Makhluk sebesar jempol bersemayam di tengah-tengah ruang tubuh, seperti nyala tanpa asap. Dia adalah penguasa yang lampau maupun yang akan datang. Dia tetap saja sama, sekarang dan besok. Begitulah keadaan sesungguhnya.

  • Penguasa yang lampau dan yang akan datang bukanlah Yang Mutlak dari tanpa waktu melainkan penguasa dari waktu.
  • Ú. membahas ayat ini dalam Sùtra Bhàûya (I.3. 24 dan 25) dan berpendapat bahwa jiwa yang dikatakan sebesar jempol dalam kenyataannya adalah brahman. Ràmànuja dan Nimbàrka setuju dan mengatakan bahwa àtman Maha Tinggi yang dikatakan “sebesar jempol” sebab dia bersemayam di dalam jantung pemuja. Dalam B.U. àtman dikatakan “sekecil beras atau gandum, tetapi adalah penguasa”. V.5.1. Dalam C.U. àtman itu dikatakan sejengkal, pradeúa-màtra, V.18.1. Maitrì menceriterakan semua pendapat mengenai ukuran jiwa. Dikatakan bahwa seseorang akan “mencapai keadaan Maha Tinggi dengan samàdhi pada jiwa yang lebih kecil dari atom atau sebesar jempol, sejengkal atau seluruh tubuh”. VI. 38.


AKIBAT-AKIBAT MELIHAT KEJAMAKAN DAN KESATUAN


yqodk' dugeR v*ì' pvRtezu iv/avit -
Ev' /maRNp*qKpXy'Stanevanuiv/avit --14--


14. yathodakam durge våûþam parvateûu vidhàvati.  evaý dharmàn påthak paúyaýs tàn evànuvidhàvati. 
14. Seperti  air hujan dari ketinggian, mengalir turun dengan berbagai jalan dari bukit-bukit; demikian pula mereka yang memandang benda-benda sebagai jamak akan berjalan seperti hal ini (penuh gangguan).

  • Dia yang mengertikan perbedaan dari dharma akan dikutuk ke dalam aliran yang tidak tenang seperti apa yang dipahaminya.


yqodk' xu×e xu×maisµ' tad*gev .vit -
Ev' muneivRjant AaTma .vit gOtm --15--


15. yathodakaý úuddhe úuddham àsiktaý tàdåg eva bhavati.  evaý muner vijànata àtmà bhavati gautama. 
15. Seperti air suci yang dituangkan ke mana-mana, yang masih tetap suci. Wahai, Gautama, orang suci yang memahaminya akan bersatu (dengan Yang Maha Tinggi).

  • tàdåg eva: tetap sama. Ú. memastikan identitas metafisis antara jiwa individu dengan àtman Yang Maha Tinggi. Ràmànuja dan Nimbàrka berpendapat bahwa jiwa individu tidak berbenda atau tidak terpisah dari àtman Yang Maha Tinggi. Dia mencapai persamaan dengan Yang Maha Tinggi. Lihat M.U.III.2.8. manana-úìlasya àtmàpi param-àtma-jñànena viúuddhas san viúuddhena param-àtmanà samàno bhavati. R. 
  • Bd. Pengamatan para mistik Kristiani. Bernard dari Clairvaux berkata: “Seperti setitik air yang dituang ke dalam anggur kehilangan dirinya dan memperoleh warna dan aroma dari anggur, demikian pula pada orang suci, semua cinta manusia mencair, melalui suatu transmutasi yang tidak bisa dijelaskan, ke dalam kemauan dari Tuhan. Sebab bagaimana mungkin Tuhan berada di mana-mana bila hanya hal-hal yang bersifat manusiawi saja yang ada pada manusia?” Intinya akan terus ada, tetapi dalam keindahan yang lain, kekuatan lebih tinggi, keagungan yang lebih besar. Santo Theresa berkata: “Perkawinan rohani adalah seperti hujan yang datang dari langit dan jatuh di sungai manunggal dan menjadi satu cairan sehingga air sungai dan air hujan tidak bisa dibedakan; atau dia mirip sungai kecil yang mengalir kelautan yang selanjutnya tidak bisa dibedakan”.



Bagian 2

ÀTMAN INDIVIDU

purmekadax ÜarmjSyav¹ cets" -
Anuîay n xocit ivmuµé ivmuCyte - EtÜW tt( --1--

1. puram ekàdàúa-dvàram ajasyàvakra-cetasaá, anuûþhàya na úocati vimuktasca vimucyate: etad vai tat. 
1. Ada sebuah kota dengan sebelas pintu, milik dia yang tidak terlahir, yang pikirannya lurus. Dengan memerintah kota ini seseorang tidak akan pernah bersedih dan terbebas sepenuhnya. Begitulah keadaan sesungguhnya.

  • ekàdaúa-dvàram; sebelas pintu. B.G. (V.13) menyebutkan sembilan pintu457 yaitu dua mata, dua kuping, dua lubang hidung, mulut, anus dan alat kelamin. Di sini bisa disebutkan dua lagi untuk menjadikan sebelas yaitu pusar dan ubun-ubun, yaitu pintu di atas batok kepala, (A.U. III. 12) melalui mana jiwa yang terbebas dikatakan lewat ketika meninggal.
  • a-vakra-cetasaá: yang pikirannya lurus, avakram: akuþilam.
  • auûþhàya: memerintah (kota). Ú. mengartikannya: ‘merenung’, dhyàtvà. 
  • Ketika jiwa bisa mengendalikan pintu-pintu ini dan hidup dengan tenang ini artinya bebas dari kesedihan. Ini adalah kebebasan ke dalam keadaan pelepasan yang sempurna (videha-mukti).


h'sXxuiczt( vsurNtir=sThota veidst( - AitiqduRro,st( - n*st( - vrst( - ¨tst( - Vyomst( - ABja - goja - ¨tja - Aid–ja - ¨tm(  - b*ht( --2--
2. haýsaú úuciûat, vasur antarikûasat hotà vediûat, atithir duroóasat, nåûat, varasat, åtasat, vyomasat, abjà, gojà, åtajà, adrijà, åtam, båhat. 
2. Dia adalah hamsa, angsa (matahari di langit), yang mengisi semua antariksa (antara bumi dan svarga), pendeta di tempat pemujaan, tamu pada periuk yajña. Dia bersemayam pada orang-orang, pada dewata, di kanan dan di langit. Dia adalah yang (seluruhnya) lahir dari air, muncul dari bumi, lahir dari kanan, lahir dari gunung. Dia sesungguhnya yang nyata dan yang agung.

  • Mantra haýsavatì ini yang åûi-nya adalah Vàma-deva adalah doa kepada matahari yang menerangi dunia dan mengusir kegelapan yang ada pada diri manusia.
  • Lihat R.V.IV. 40.5. Vàjasenayi Saýhità X.24; XII.14; Taittirìya Saýhità III.2.10.1; Úatapatha Bràhmaóa VI.7.3.11.
  • vasu: yang ada di mana-mana; vàsayati sarvàn. Ú
  • hotà: pendeta, ‘Api’ menurut Ú. hotàgniá, agnir vai hotà ity úruteá. 
  • Dalam Úatapatha Bràhmaóa, ketiga Agni disamakan dengan matahari di langit, udara di angkasa antara bumi dan langit dan dengan pendeta atau tamu di bumi. Di sini Agni, kekuatan yang Maha Tinggi disamakan dengan brahman atau àtman. Mantram ini lebih menegaskan bahwa seluruh alam semesta ini tidaklah berbeda dengan brahman Yang Maha Tinggi. etat sarvam aparicchinna-satya-rùpa-brahmàtmakam. R.


¤?v| p[a,mun{yTypan' p[TygSyit -
m?ye vamnmas¢n' ivëe deva £paste --3--


3. ùrdhvam pràóam unnayaty apànam pratyag asyati, madhye vàmanam àsìnaý viúve devà upàsate. 
3. Dia menuntun pràóa ke atas, dia menuntun ke dalam apàna, si cebol yang duduk di tengah di mana semua dewata mencintainya.

  • Permulaannya pràóa berarti nafas, dan pernah diartikan sebagai makhluk Yang Maha Tinggi. Pada permulaan Upaniûad semua kekuatan vital (wicara, nafas, mata, telinga dan pikiran) disebut pràóàá. B.U.I.5.3: T.U. 1-7.
  • Semuanya ini dilihat sebagai ragam dari nafas atau sebagai kekuatan-kekuatan yang menguasai bagian-bagian badan yang berlainan. Pràóa dan apàna berarti nafas-nafas waktu dikeluarkan dan ditarik.
  • vàmanam: si-cebol (nama lain dari makhluk sebesar jempol) anguûþha màtra-puruûa.
  • “Pantas untuk dilayani”, vananìyam sambha janìyam.Ú. viúve devàá: semua dewata Ú. menafsirkannya sebagai indriya dan kekuatan vital” yang menjadi subyek dari makhluk di dalam, yang merupakan Penguasa yang mereka sembah melalui perbuatan mereka yang tidak ada henti-hentinya.


ASy ivñ'smanSy xr¢rSqSy deihn" -
dehaiÜmuCymanSy ikm] pirixZyte - EtÜW tt( --4--


4. asya visraýsamànasya úarìrasthasya dehinaá, dehàd vimucyamànasya kim atra pariúiûyate: etad vai tat. 
4. Ketika jiwa yang mempunyai raga (yang mempunyai raga kasar) yang bersemayam di dalam raga, pergi dan terlepas dari raga apakah yang masih tertinggal? Begitulah keadaan sesungguhnya.

  • Apa yang tertinggal adalah àtman Semesta.


n p[a,en napanen mTyoR j¢vit kén -
—tre, tu j¢viNt - yiSmn{etavupaiè[tO --5--


5. na pràóena nàpànena martyo jìvati kaú cana, itareóa tu jìvanti, yasminn etàv upàúritau. 
5. Bukanlah karena prana atau apana seorang manusia bisa hidup terus. Tetapi oleh makhluk lainlah mereka hidup dan nafas vital ini tergantung.

  • Mantra ini menolak ajaran kebendaan bahwa jiwa itu hanyalah bagian dari suatu rangkaian. Ini diartikan bahwa karena rumah dan penghuninya terpisah, kehancuran dari rumah bukan berarti kehancuran dari penghuni. Kehilangan raga bukan berarti kehancuran jiwa, sedang perginya jiwa berarti hancurnya raga.



KELAHIRAN KEMBALI


hNt t —d' p[v+yaim guö' b[õ snatnm( -
yqa c mr,' p[aPy AaTma .vit gOtm --6--


6. hanta ta idaý pravakûyàmi guhyam brahma sanàtanam: yathà ca maraóam pràpya àtmà bhavati gautama. 
6. Lihat di sini. Aku akan menerangkan rahasia brahman, yang kekal, dan juga bagaimana jadinya jiva, setelah kematian wahai, Gautama.


yoinmNye p[pÛNte xr¢rTvya deihn" -
Sqa,umNye_nusMyiNt - yqa kmR - yqa è[utm( --7--


7. yonim anye prapadyante úarìratvàya dehinaá, sthàóum anye’nusamyanti, yathà karma, yathà úrutam. 
7. Beberapa jiwa memasuki rahim untuk memperoleh raga yang lain, memasuki obyek-obyek yang diam sesuai dengan perbuatan mereka atau pikiran mereka.

  • Upaniûad disamping menekankan kenyataan yang berdiri sendiri dari àtman Yang Maha Tinggi dia juga menegaskan kenyataan jiwa individu. 
  • Di sini hukum karma bahwa kita terlahir sesuai dengan perbuatan kita, ditegaskan, yathà úrutam yàdåúaý ca vijñànam upàrjitaý tad anurùpam eva úarìram pratipadyanta iti. Ú.


y Ez sußezu jagitR kam' kam' puäzoinimRma," tdev xu¹' tØãõ tdevam*tmuCyte - tiSmNloka" iè[ta" sveR - tdu naTyeit kén - EtÜW tt( --8--


8. ya eûa supteûu jàgarti kàmam kàmam puruûo nirmimàóaá tad eva úukraý tad brahma tad evàmåtam ucyate. tasmin lokàá úritàá sarve, tad u nàtyeti kaú cana: etad vai tat. 
8. Orang tersebut, yang terjaga pada saat mereka tidur, membentuk nafsu-nafsu, itu sesungguhnya adalah murni. Itulah brahman, itu yang sesungguhnya yang disebut kekal. Di sinilah semua dunia terletak dan tiada seorangpun pergi di luar hal ini. Begitulah keadaan sesungguhnya.

  • kàmaý kàmam: nafsu-nafsu, sesungguhnya obyek nafsu. Bahkan obyek mimpi seperti obyek pada saat kita terjaga adalah juga karena Yang Maha Tinggi. Bahkan kesadaran mimpi pun adalah bukti tentang keberadaan dari àtman. Lihat B.U.IV.3.  
  • “Tidak ada orang yang bisa pergi keluar darinya: Bd. Eckhart: “Setelah mencapai Tuhan, semua gerak berhenti”.



ÀTMAN ITU IMMANENT DAN TRANSENDEN


Aig{yRqWko .uvn' p[ivìo åp' åp' p[it åpo b.Uv -
EkStqa svR .UtaNtraTma åp' åp' p[it åpo bihé --9--


9. agnir yathaiko bhuvanam praviûþo rùpaý rùpam prati-rùpo babhùva, ekas tathà sarva-bhùtàntar-àtmà rùpaý rùpam prati-rùpo bahiú ca. 
9. Seperti api yang memang satu, saat memasuki dunia ini menjadi berbagai macam bentuk sesuai dengan obyek (yang dibakarnya ), demikian pula àtman yang satu ini menjadi berbagai bentuk sesuai dengan (apa yang dimasukinya), dan juga tetap berada di luar semua itu.

  • Bd.R.V. di mana Indra dalam peperangannya dengan para raksasa dikatakan telah mengambil beberapa bentuk melalui kekuatan gaibnya, mengambil bentuk yang berlawanan dari setiap bentuk.
    rùpaý-rùpaý prati-rùpo babhùva
    indro màyàbhiá pururùpa ìyate
    . IV.47.18. 
  • bahìú: di luar. Walaupun àtman mengambil berbagai bentuk, ini tetap berada di luar dunia yang terwujud dalam sifatnya dan tidak berubah. svena avikåtena rùpeóa àkàúavat. Ú. Mantra ini mengartikan sifat yang immanent dari àtman Yang Maha Tinggi. Bd.R.V.X.90, di mana dikatakan bahwa semua makhluk adalah seperempatnya puruûa tiga perempatnya langgeng dan berada di svarga, tripàd asyàmåtaý divi, R.V.X.90.3;Ú. U. III.9 dan 10.


vayuyRqWko .uvn' p[ivìo åp' åp' p[it åpo b.Uv - EkStqa svR .UtaNtraTma åp' åp' p[it åpo bihé --10--


10. vàyur yathaiko bhuvanam praviûþo rùpaý rùpam prati-rùpo babhùva, ekas tathà sarva-bhùtàntar-àtmà rùpaý rùpaý prati-rùpo bahiú ca. 
10. Seperti juga udara yang satu, masuk ke dalam dunia ini dan menjadi berbagai bentuk sesuai dengan obyek yang dimasukinya, demikian juga àtman yang satu dalam semua makhluk menjadi berbagai macam, sesuai dengan apa yang dimasukinya dan juga tetap berada di luar semuanya.


sUyoR yqa svRlokSy c=unR ilPyte c=uzWbaRö dozW" - EkStqa svR .UtaNtraTma åp' åp' p[it åpo bihé --11--


11. sùryo yathà sarva-lokasya cakûur na lipyate cakûuûair bàhya-doûaiá, ekas tathà sarva-bhùtàntar-àtmà na lipyate loka-duákena bàhyaá. 
11. Seperti juga matahari, yang merupakan mata dari seluruh dunia, tidak dikotori oleh keburukan-keburukan luar yang dilihat oleh mata, demikian juga Yang Satu di dalam setiap makhluk tidak dicemarkan oleh penguasaan dunia, sebab dia berada di luarnya.

  • Mantra ini mengakui keburukan-keburukan dunia tetapi menyangkal bahwa ini menyentuh àtman Yang Maha Tinggi, yaitu jiwa kita. Bentuk yang diambil oleh Yang Maha Tinggi bukankah modifikasi diri-Nya melainkan merupakan perwujudan dari semua kemungkinan. Àtman Yang Maha Tinggi tidak dipengaruhi oleh penderitaan àtman individu sebab-penderitaan àtman individu ini adalah karena identifikasi dirinya dengan yang bukan àtman. Yang Maha Tinggi dalam pada itu tidak ikut mengalami, sebab Dia bukanlah subyek ketidaktahuan (avidyà) dan tidak mengidentifikasi diri-Nya dengan kejadian yang manapun yang merupakan subyek dari kendaraan psikofisis.


Eko vx¢ svR .UtaNtraTma Ek' b¢j' bhu/a y" kroit - 
tmaTmSq' ye_nupXyiNt /¢rSteza' su%' xaSvt' netrezam( --12--


12. eko vaúì sarva-bhùtàntar-àtmà ekam bìjam bahudhà yaá karoti. tam àtmastham ye’nupaúyanti dhìràs teûàý sukhaý úàsvataý netareûàm. 
12. Yang satu, penguasa semuanya, àtman dari semua benda, yang membuat dirinya yang tunggal menjadi jamak, kepada yang arif yang mengerti bahwa dia bersemayam pada jiva  untuk merekalah suka cita yang kekal (ànanda) dan bukan kepada yang lain.

  • vàúì: penguasa. Lihat B.U.IV.4. 22; Ú.U.VI. 12. 
  • àtmastham: bersemayam pada jiwa, Yang Maha Tinggi bersemayam dalam diri kita yang terdalam.
  • sva-úarìra-hådayàkàúe buddhau caitanyàkareóàbhivyaktam. Ú. Bd. I. Yohanes. IV.13 “Demikianlah kita ketahui bahwa kita tetap berada didalam Allah dan Dia didalam kita : Ia telah mengaruniakan kita mendapat bagian didalam Roh-Nya.” (dosa-dosa manusia) yang membuat dirinya yang tunggal menjadi jamak. Ini adalah tunggal dalam keadaan tidak terwujud. Dia menjadi jamak dalam keadaan terwujud, ekì-bhùtàvibhàgàvasthaý tamo-lakûaóam bijam mahadàdi bahu-vidha-prapañca-rùpeóa yaá karoti tam. R.


inTyo_inyana' cetnéetnanameko bhUna' yo ivd/ait kaman( -
tmaTmSq' yenupXyiNt i/ra" teza' xaiNtXxSvt¢ - netrezam( --13--


13. nityo’nityànàý cetanaú cetanànàm eko bahùnàm yo vidadhàti kàmàn, tam àtmastham yenupaúyanti dhìràá teûàý úàntiú úasvatì, netareûàm. 
13. Yang kekal diantara yang cepat berubah, yang tidak sadar diantara yang sadar, yang tunggal diantara yang jamak, yang mengabulkan keinginan-keinginan mereka, kepada yang arif yang mengerti tempat-Nya pada jiwa, untuk merekalah ada kedamaian abadi dan bukan kepada yang lain.

  • Lihat Ú.U. VI. 13.
  • nityo’nityànàm, kadang-kadang nityo nityànam yang kekal diantara yang kekal. Yang Maha Tinggi mengabulkan permintaan dari yang banyak. Di sini kita melihat ajaran wahyu Tuhan.


tdetidit mNyNte_indeRXy' prm' su%m( -
kq' nu tiÜjan¢ya' ikmu .ait iv.ait va --14--


14. tad etad iti manyante’nirdeúyam paramaý sukham, kathaý nu tad vijànìyàm kimu bhàti vibhàti và. 
14. Inilah dia, yang dengan demikian mereka kenali, kebahagiaan Maha Tinggi yang tidak bisa dijelaskan. Bagaimana aku bisa mengetahui hal ini? Apakah dia bersinar (sendiri) atau apakah dia bersinar (karena memantulkan sinar)?

  • Apakah Yang Maha Tinggi bersinar dalam diriNya sendiri (lihat III.1.3.12) atau apakah Dia bersinar (berupa pantulan).


n t] sUyoR .ait - ncNd–tarkm( - nema ivÛuto .aiNt -
k¦to_ymig{" -tmev .aNtmnu.ait sv| tSy .asa svRimd' iv.ait --15--


15. na tatra sùryo bhàti, na candra-tàrakam, nemà vidyuto bhànti, kuto’yam agniá: tam eva bhàntam anubhàti sarvaý tasya bhàsà sarvam idaý vibhàti. 
15. Matahari tidak bersinar di sana, tidak juga bulan dan bintang, kilat ini tidak bersinar, jadi di manakah adanya api ini? Semuanya bersinar sesudah sinar itu. Sinarnya menyinari semua dunia ini.

  • Yang Maha Tinggi yang merupakan sumbernya sinar, ’penguasa sinar dari semua yang kita lihat’, tidak bisa dikenal dengan sinar duniawi manapun. Pengetahuan kita tidak akan bisa menemukannya. 
  • Lihat M. U. II. 2. 10; Ú. U. VI. 14; B.G. XV. 12. Lambang sinar adalah yang paling alamiah dan paling semesta. Plato dalam surat yang ketujuh, membandingkana inspirasi gaib yang tiba-tiba dengan “loncatan percikan api”.
  • Dalam mitos tentang goa, dunia yang sesungguhnya adalah kerajaan sinar di luar goa. Buku Perjanjian Lama dan agama Zoroaster berbicaranya mengenai pertentangan antara gelap dan terang. Dalam surat 1 Yohanes 1, 5 kita membaca: “Dan inilah berita yang telah kami dengar dari Dia dan yang kami sampaikan kepada kamu : Allah adalah terang dan didalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.”


Bagian 3

POHON DUNIA BERAKAR PADA BRAHMAN


¤?vRmUlo_vaKxa% Ezo_ëTqSsntn" - tdev xu¹' tØãõ - tdevam*tmuCyte - tiSmNloka" iè[ta" sveR tdu naTyeit kén - EtÜW tt( --1--


1. ùrdhva-mùlo’vàk-úàkha eûo’úvatthas sanàtanaá, tad eva úukraý tad brahma, tad evàmåtam ucyate. tasmin lokàá úritàá sarve tad u nàtyeti kaú cana: etad vai tat. 
1. Dengan akar-akarnya di atas dan cabang-cabangnya di bawah berdirilah pohon ara yang tua ini. Itulah sesungguhnya yang murni, itulah brahman. Itu pulalah yang disebut abadi. Padanya semua dunia berada dan tidak ada seseorang yang pernah pergi di luar dia. Begitulah keadaan sesungguhnya.

  • tad eva: itulah sesungguhnya, yaitu akar dari pohon ini. Gambaran di sini mempunyai persamaan dengan gambaran pohon Igdrasil dalam mitologi Skandinavia. 
  • Pohon kehidupan mempunyai akarnya yang tidak terlihat pada brahman. Pohonnya, akar-akarnya dan cabang-cabangnya mewakili brahman dalam bentuknya yang terwujud. Sedang pohon kehidupan ini dikatakan sebagai brahman yang abadi, B.G. yang mempergunakan gambaran ini, menganjurkan kita untuk memotong pohon keberadaan dengan senjata yang sangat ampuh yang berupa ketidakterikatan. XV.1.3. Pohon ini tumbuh terbalik. Dia berakar di atas dan bercabang di bawah. Lihat Ú.U.III.9: Maitrì VI.4. Cabang di bawah adalah untuk Madhva devata di bawah: avàýcaá adhamàá devàá úàkhàá yasya asau.


KETAKUTAN YANG BESAR


yidd' ikÆ jgTsv| p[a, Ejit in"s*tm( -
mhÙy' vjãmuÛtm( - y EtiÜdurm*taSte .viNt --2--


2. yad idaý kiñ ca jagat sarvam pràóa ejati niásåtam, mahad bhayaý vajram udyatam, ya etad vidur amåtàs te bhavanti. 
2. Seluruh alam, apa saja yang ada di sini, datang dan bergerak dalam yang hidup. Ini adalah ketakutan yang besar seperti halilintar. Barang siapa yang memahaminya akan menjadi abadi.

  • Seluruh dunia gemetar dihadapan brahman, parasmin brahmaói saty ejati kampate. Ú.


.yadSyaig{Stpit - .yaTtpit sUyR" -
.yaidNd–é vayué - m*Tyu/aRvit pÆm" --3--


3. bhayàd asyàgnis tapati, bhayàt tapati sùryaá, bhayàd indraú ca vàyuú ca, måtyur dhàvati pañcamaá. 
3. Karena ketakutan terhadapnya, api bisa membakar, karena ketakutan kepadanya, matahari memberi panas, karena takut baik Indra (pemimpin dewata) dan Vàyu dan Yama, yang kelima lari.

  • Lihat T.U.II. 8.1.
  • Sumber dan ketakutan penyanggah alam adalah brahman. Evolusi bukanlah proses mekanis. Dia dikendalikan oleh brahman, yang di sini diwakili oleh pràóa, kekuatan yang memberi hidup: jagato mùlam pràóa-pada lakûyam pràóa-pravåttir api hetutvàt. À.



PENGERTIAN TENTANG ÀTMAN 


—h cedxkØo×u' p[aKxr¢rSy ivñs" -
tt" sgeRzu lokwzu xr¢rTvay kLpte --4--


4. iha ced aúakad boddhum pràk úarìrasya visrasaá, tataá sargeûu lokeûu úarìratvàya kalpate. 
4. Bila seseorang mampu memahami (Dia) sebelum raga terjatuh (dia akan terbebas dari penderitaan); (bila tidak) maka dia memang pantas untuk diberikan raga dalam dunia-dunia ciptaan.

  • aúakat: bisa. Kadang-kadang itu dipisah menjadi na úakat, tidak bisa, misalnya orang gagal mengerti hal ini. Arti yang paling sederhana mungkin “Bila seseorang tidak mampu untuk mengerti (Yang Maha Tinggi), maka orang yang bersangkutan layak untuk dilahirkan ke dalam dunia-dunia ciptaan” Ú. menafsirkan ayat ini sebagai berikut: “Bila di sini dalam hidup ini, seseorang sanggup mengerti tentang brahman yang hebat, maka dia akan terbebas dari ikatan saýsàra; bila dia tidak sanggup untuk memaahaminya maka karena kekurangan pengetahuan dia akan dilahirkaan ke bumi ini atau ke dunia-dunia ciptaan yang lain”. 
  • sargeûu lokeûu: dunia ciptaan V. sarveûu kàleûu, pada semua waktu. 
  • Mantra ini mengajarkan bahwa adalah mungkin untuk mencapai kearifan tentang pengetahuan brahman di sini dan sekarang.


yqadxeR tqaTmin - yqa SvPne tqa ipt*lokw - yqaPsu pr¢v dd*xe -
tqa gN/vRlokw ^ayatpyoirv b[õ lokw --5--


5. yathàdarúe tathàtmani, yathà svapne tathà pitå-loke, yathàpsu parìva dadåúe, tathà gandharva-loke chàyà-tapayor iva brahma loke. 
5. Seperti pada cermin, begitu pula hal ini dilihat pada jiwa bagaikan pada mimpi demikian juga pada dunia roh, sebagai obyek yang terlihat di air, begitu juga pada dunia gandharva; sebagai bayang-bayang dan sinar pada dunia Brahmà.

  • Dia bisa dilihat dalam hidup ini seperti pada gelas, bila pikirannya murni dan terang. Pada dunia gandharvas dia hanya dapat dilihat sebagai bayangan ingatan sebagai bayangan air yang sedang bergetar. Dalam dunia Brahmà dia bisa dilihat sebagai bayang-bayang dan sinar. 
  • gandharvas: malaikat yang mendiami ruang udara yang tiada terbatas. R.V. VIII. 65.5; lihat juga B.U. IV. 3.33.


—iNd–ya,a' p*qG.avmudyaStmyO c yt( -
p*qguTpÛmanan' mTva /¢ro n xocit --6--


6. indriyàóàm påthag-bhàvam udayàstamayau ca yat, påthag utpadyamànànam matvà dhìro na úocati. 
6. Mengerti akan sifat yang terpisah dari indriya-indriya yang muncul secara terpisah (dari berbagai zat) dan mengerti juga bahwa munculnya mereka dan lingkungannya adalah berbeda, orang yang arif tidak usah bersedih.

  • Perbedaan dari àtman dengan alat indriya ditekankan di sini. Bila seorang yang arif mengetahui bahwa indriya kebendaan tidak datang dari àtman, bahwa jatuh bangunnya tergantung dari sifat mereka, maka dia akan tidak pernah bersedih.


—iNd–ye>y" pr' mno mnsSsÑvmuTtmm( -
sÑvadi/ mhanaTma - mhto_VyµmuTtmm( --7--


7. indriyebhyaá param mano manasas sattvam uttamam. sattvàd adhi mahàn àtmà, mahato’vyaktam uttamam. 
7. Di luar indriya-indriya adalah pikiran; di atas pikiran adalah inti sarinya (buddhi): diatasnya adalah àtman yang agung di atas àtman yang agung adalah yang tiada terwujud.

  • sattva: sari. Buddhi merupakan sari dari pikiran. Lihat catatan tentang I. 3. 10 dan 11.


AVyµaTtu pr" puäzo Vyapko_il½ Ev c -
y' DaTva muCyte jNturm*tTv' c gC^it --8--


8. avyaktàt tu paraá puruûo vyàpako’liòga eva ca, yaý jñàtvà mucyate jantur amåtatvaý ca gacchati. 
8. Di luar yang tidak terwujud adalah manusia, yang ada di mana-mana dan tanpa tanda-tanda apapun. Dengan mengerti siapa dia, seorang akan terbebas dan abadi.

  • aliòga: tanpa tanda-tanda. Lihat M.U. III. 2. 4; Maitrì V. 31.35; VII.2.
  • “Tanpa satu atribut empiris”. sarva-saýsàra-dharma-varjitaá. Ú. Liòga adalah tanda untuk membedakan. Dalam logika dia adalah tanda yang tidak berubah yang merupakan dasar dari suatu kesimpulan. Liòga dihubungkan dengan liòga-sàma sùkûma úarìra, yaitu kesatuan di mana di dalamnya termasuk buddhi, ahaýkàra, manas, indriyàói, tanmàtràói. Ú. U. VI. 9; Maitrì VI. 10. 19. Bila liòga diartikan dalam pengertian ini, maka ini berarti Yang Maha Tinggi tidak memerlukan badan halus dan tidak bisa mati atau dilahirkan kembali.


n s'd*xe itîit åpmSy - n c=usa pXyit kénWnm( -
òda m,¢za mnsai.³ßo y EtiÜdurm*taSte .viNt --9--


9. na saýdåúe tiûþhati rùpam asya, na cakûuûà paúyati kaúcanainam: hådà maóìûà manasàbhikípto ya etad vidur amåtàs te bhavanti. 
9. Tidak dalam bidang visi, bentuk ini berdiri. Tiada seorangpun yang pernah melihatnya dengan mata. Dengan hati, dengan berpikir, dengan pikiran, siapa yang mengerti tentang dia akan menjadi abadi.

  • Bagian pertama menunjukkan kepada kita bahwa tidak bisa membentuk bayangan visual tentang Yang Maha Tinggi dan bagian kedua mengatakan bahwa kita tetap dapat mengetahui Dia dengan hati, dengan pikiran. Yang Maha Tinggi bisa dikenal melalui pemusatan yang diarahkan dari seluruh kekuatan mental.
  • manìûà: (bayangan) pikiran. vikalpa-varjita buddhi.
  • manas: pikiran, pandangan yang sesungguhnya dalam bentuk samàdhi manana-rùpeóa samyag-darúana. Ú. Bila pikiran menjadi terang dan hati bersih, visi tentang Tuhan muncul. Bd. R. V. I. 61.2. hådà manasà manìûà. Kita harus mencari Tuhan dalam hati kita dan dalam jiwa kita. Proses ini disebut introversi, kemanunggalan yang menyendiri antara jiwa dan Tuhan, pikiran dari yang sendiri kepada Yang Sendiri,  seperti dikatakan Plotinus. Bd. Cassian: “Pikiran akan datang kepada doa yang tulus itu yang tidak ingin melihat bayangan apapun, dan tidak menjadi jelas oleh gumam suara atau kata apapun; tetapi dengan kesungguhan pikiran yang bersinar, dia dihasilkan oleh kemauan semangat yang tidak habis-habisnya; dan karena pikiran diletakkan di atas indriya dan benda-benda yang kelihatan, bercampurlah dia kepada Tuhan dengan keluhan dan gumaman yang tidak bisa dimengerti. 
  • abhikípta: khawatir. Sebab pengertian Tuhan dibentuk oleh sifat mental kita maka pengertian ini tentu tidak identik untuk semuanya. Sikap ini mengembangkan kedermawanan, keterbukaan, keengganan untuk memaksakan pendapat kepada oran lain. Apabila orang di Timur tidak mempunyai rasa bahwa mereka adalah golongan yang terpilih, bila dia itu relative bebas dari rasa lebih dari golongan lain, hal ini tidak kecil datangnya dari adanya pengakuan bahwa pengertian Ketuhanan adalah nisbi terhadap tradisi dan pengalaman kita.


yda pÆavitîNte Danain mnsa sh -
bui×é n ivceìit - tamahu" prma' gitm( --10--


10. yadà pañcàvatiûþhante jñànàni manasà saha,
buddhiú ca na viceûþati, tàm àhuá paramàý gatim. 

10. Ketika kelima pengetahuan (indriya) bersama dengan pikiran berhenti dari (kegiatan biasa/rutin mereka) dan buddhi sendiri tidak bergeming, ini mereka katakan  sebagai keadaan yang tertinggi.

  • Bd. Boehme: “Ketika Anda berhenti berpikir dan berkeinginan: ketika baik buddhi maupun keinginan Anda tenang dan pasif tanpa reaksi terhadap pernyataan dari luar dan ketika jiwa Anda melayang dan berada di atas segala sesuatu yang bersifat sementara, indriya luar dan bayang-bayangan terkunci oleh bayangan suci, barulah pendengaran yang Abadi, Pengelihatan dan Wicara akan diperlihatkan pada Anda, dan dengan demikian Tuhan mendengar dan melihat melalui Anda, karena Anda menjadi alatNya dan karena itu Tuhan muncul pada Anda dan berbisik kepada jiva Anda. Karena itu Anda akan diberkati, apabila Anda bisa berdiam diri dan terbebas dari pikiran dan kemauan dan Anda bisa memberhentikan imaginasi dan bayangan Anda”.


taMyogimit mNyNte iSqraimiNd–y/ar,am( -
Ap[mTtStda .vit - yogo ih p[.vaPyyO --11--


11. tàm yogam iti manyante sthiràm indriya-dhàraóàm,
apramattas tadà bhavati, yogo hi prabhavàpyayau. 

11. Ini mereka anggap sebagai Yoga, pengendalian terhadap indriya. Sesudah itu orang  tidak akan tidak terganggu sebab Yoga datang dan pergi.

  • apramattaá: tidak terganggu. pramàda-varjitaá samàdhànam prati-nityam prayatnavàn.Ú. Lihat juga C.U. I.3. 12. dan II. 22. 2; M. U. II. 2. 4. Dalam ajaran Buddha semua kebajikan dikatakan terpusat pada apramàda (bahasa Palawa, appamàdo). Kesungguhan adalah jalan kepada kekekalan dan kebalikannya jalan kematian. appamàdo amatapadam, pamàdo maccuno padam. Dhammapada 21.
  • prabhavàpyayau: datang dan pergi. 
  • Kesungguhan dan kesiagaan perlu dalam Yoga, sebab dia datang dan pergi. jananàpàya-dharmakaá. Ú. pratikûanàpàyaúàlitayà avadhànam apekûitam. R. Bila kita hati-hati kita akan memperolehnya; bila kita sembrono kita akan kehilangan. Pikiran sering berubah karena itu kita harus sangat hati-hati.
  • Ini sering ditafsirkan sebagai “permulaan dan akhir”. “Dunia tenggelam dalam Yoga dan kemudian diciptakan yang baru”, kata Deussen. Inilah Pàtañjala Yoga yang belakangan.



ÀTMAN SEBAGAI KEBERADAAN


nWv vaca n mnsa p[aPtu' xKyo n c=uza -
ASt¢it b[uvto_Ny] kq' tdupl>yte --12--


12. naiva vàcà na manasà pràptuý úakyo na cakûuûà, astìti bruvato’nyatra kathaý tad upalabhyate. 
12. Bukan melalui wicara, bukan melalui pikiran, bukan melalui pengelihatan dia bisa dimengerti. Bagaimana dia bisa dikenali kecuali oleh dia yang berkata: “Benarkah dia?”.

  • Dia hanya bisa dikenali oleh mereka yang bisa memastikan bahwa “Memang benarlah Dia”.
  • Àtman sebagai subyek yang mengetahui tidak pernah menjadi obyek. Dia bisa dicapai melalui Yoga. Walaupun dia berada di atas pengertian yang umum, Dia bisa segera dialami melalui Yoga, dan pada pengertian yang demikian,  keyakinan akan keberadaannya merupakan syarat mutlak. Keyakinan akan kenyataan yang akan dicari merupakan syarat yang harus ada. 
  • Menafsirkan mantra ini, Ú. berpendapat bahwa brahman yang Maha Tinggi yang dianggap sebagai sumber dari jagat haruslah diyakinkan bahwa dia ada. Kita tidak bisa mengertikan dunia ini dihasilkan dari ketiadaan. Adanya dunia mesti karena ada penyebabnya.
  • Kita paling sedikit bisa berkata bahwa Tuhan itu memang benada ada. Bd. Surat kepada orang-orang Yahudi: “Dia yang datang kepada Tuhan haruslah mempunyai  keyakinan bahwa memang benarlah Dia”. Bd. St. Bernard; “Siapakah Tuhan? Saya tidak bisa memikirkan jawaban yang lebih baik dari: Dia Yang Ada. Tidak ada yang lebih pantas kepada kekekalan selain Tuhan. Bila Anda mengatakan Tuhan baik, atau besar atau bijaksana atau apa saja yang semacam ini, maka semuanya sudah termasuk dalam sebutan bahwa, memang benarlah Dia”.


ASt¢TyevoplB/VyStÑv.aven co.yo" -
ASt¢TyevoplB/Sy tÑv.av" p[s¢dit --13--


13. astìty evopalabdhavyas tattva-bhàvena cobhayoá, astìty evopalabdhasya tattva-bhàvaá prasìdati. 
13. Dia seharusnya hanya dikenal sebagai keberadaan dan kemudian dalam sifat yang sesungguhnya dan kedua-duanya. Ketika dia dimengertikan sebagai keberadaan, maka sifat yang sesungguhnya menjadi jelas (akhirnya)

  • Penekanan yang paling pokok yang bisa dikatakan tentang àtman adalah pernyataan tentang keberadaannya, murni dan sederhana ubhayoá: kedua-duanya. Dalam jalan yang bersyarat dan tidak bersyarat: sopàdhika nirupàdhikayoá. Ú.  
  • Keyakinan  rasional terhadap adanya brahman akan membawa kepada pengalaman rohani di mana sifat-Nya akan diperlihatkan dan dimengerti oleh mereka yang memiliki keyakinan. 
  • Pada bagian ini, pengarang berbicara kepada kita tentang disiplin Yoga dengan apa seluruh kegiatan seseorang disatukan dan dipusatkan kepada kesadaran atas Wujud Yang Maha Tinggi, yang juga adalah àtman yang terdalam.


yda sveR p[muCyNte kama ye_Sy òid iè[ta" -
Aq mTyoR_m*to .vTy] b[õ smè{ute --14--


14. yadà sarve pramucyante kàmà ye’sya hådi úritàá.
atha martyo’måto bhavaty atra brahma samaúnute. 

14. Ketika semua keinginan yang ada pada hati manusia dihilangkan, maka manusia yang fana akan menjadi abadi dan bahkan disini kita sudah mencapai brahman.

  • Ketika keinginan akan sesuatu, kebodohan dan keraguan lenyap maka visi Tuhan akan muncul. Upaniûad ini menganggap manunggal dengan Tuhan sebagai pemenuhan dari pengalaman rohani.


yda sveR p[i.ÛNte òdySyeh g[Nqy" -
Aq mTyoR_m*to .vTyetavdnuxasnm( --15--


15. yadà sarve prabhidyante hådayasyeha granthayaá,
atha martyo’måto bhavaty etàvad anuúàsanam. 

15. Ketika semua ikatan yang membelenggu di sini diputuskan, maka manusia yang fana akan menjadi abadi. Demikian jauhlah pengajarannya.

  • etàvad anuúàsanam: demikian jauhlah pengajarannya. Upaniûad aslinya dirasakan sudah berakhir pada I.3. 17. Kata-kata ini rasanya merupakan kata akhir dari Upaniûad sudah yang diperbesar. Ayat-ayat berikutnya mungkin tambahan yang datangnya belakangan.


xt' cWka c òdySy na@)Stasa' mU/aRnmi.in"s*tWka -
tyo?vRmayn{m*tTvmeit - ivZv;Nya £T¹m,e .viNt --16--


16. úataý caikà ca hådayasya nàðyas tàsàm mùrdhànam abhiniásåtaikà: tayordhvam àyann amåtatvam eti, viûvaòò anyà utkramaóe bhavanti. 
16. Seratus satu adalah urat nadi pada jantung; satu diantaranya naik ke atas mencapai ubun-ubun. Pergi ke atas melaluinya, seseorang akan menjadi abadi; yang lain bertugas untuk beredar ke arah lain.

  • Lihat C.U. VIII. 6.6. di mana dikatakan bahwa jika seseorang menjalani hidup sebagai siûya yang disiplin, dan kemudian ‘menemukan atman’, maka pada saat kematiannya, àtman yang bersemayam pada jantung akan naik ke atas melalui urat yang disebut suûumnà (Maitrì VI.21) mencapai ubun-ubun yang dikenal sebagai brahma-randra atau vidåti, melalui mana sebenarnya pada permulaan kehidupannya dia masuk. Dari sana jiwa akan naik mengikuti sinar matahari menuju matahari yang merupakan pintu Brahmaloka bagi mereka yang mengerti atau menjadi tempat pemberhentian bagi mereka yang tidak mengerti. Jalan-jalan yang lain menuntun mereka yang tidak terbebas kepada kelahiran kembali.


A½uîma]" puäzo_NtraTma sda jnana' òdye sin{ivì" -
t' SvaC^r¢raTp[v*heNmuÇaidveizka' /WyeR, -
t' ivÛaC^u¹mm*t' t' ivÛaC^u¹mm*timit --17--


17. aòguûþhamàtraá puruûo’ntaràtmà sadà janànàm hådaye sanniviûþaá, taý svàc charìràt pravåhen muñjàd iveûìkàý dhairyeóa, taý vidyàc chukram amåtaý taý vidyàc chukram amåtam iti. 
17.  Wujud sebesar jempol, àtman yang di dalam, bersemayam selalu di jantung setiap orang. Padanyalah semestinya seseorang berpegang dengan teguh dari tubuh, seperti juga angin dari rumput. Hanya padanya seseorang harus mengetahuinya sebagai yang murni, abadi. Ya, Hanya padanya seseorang harus mengetahuinya sebagai yang murni, abadi.

  • dhairyeóa: dengan keteguhan, apramàdena. Ú. dengan keberanian, dengan kekuatan buddhi, jñàna-kauúalena. R.


m*Tyup[oµa' nickwto_q lB?va ivÛameta' yog ivi/' c²Tðm( - 
b[õp[aPto  ivrjo.UiÜm*TyurNyoPyev' yo ivd?yaTmmev --18--


18. måtyu-proktàý naciketo’tha labdhvà vidyàm etàm yoga vidhiý ca kåtsnam, brahmapràpto virajo’bhùd vimåtyur anyopy evam yo vid adhyàtmam eva. 
18. Kemudian Naciketa, setelah memperoleh pengetahuan ini yang diajarkan oleh Kematian, dan seluruh ajaran Yoga, mencapai brahman dan terbebas dari nafsu dan kematian. Dan demikian juga beberapa yang lainnya yang mengerti hal ini mengenai àtman.




Baca juga:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar