Selasa, 01 Mei 2012

Katha Upanisad (1)

KAÞHA  UPANIÛAD (1)

Cerita tentang Naciketah, yang diinisiasi dalam disiplin spiritual oleh Yama sendiri, di jumpai dalam Upaniûad ini. 



Cerita yang sama juga terdapat dalam Taittirìya Bràhmaóa, dan juga dalam kitab Mahàbhàrata, pada bab ke-106 dari Anusasanaparwa. Upaniûad ini menjadi terkenal, disebabkan kejelasan dan kedalaman penggam-barannya. Banyak pemikiran yang diketengahkan di dalamnya, dapat dijumpai dalam kitab Bhagawad Gìtà. Karena ia milik dari Kathà Sakhà dari aliran Kåûóa Yajurweda, maka ia disebut Kaþhopaniûad. 

Seorang pelaksana ritual yang ketat, bernama Wajasrawa,  yang juga dikenal sebagai Gautama, melaksanakan sebuah yàga. Sebagai bagian dari upacara kurban, ia menghadiahkan beberapa ekor sapi yang sudah tidak mampu lagi makan rumput atau minum air dan menghasilkan sedikit susu. Sapi-sapi itu juga sudah terlampau tua guna suatu keperluan yang berat. Melihat hal ini, putranya yang cerdas dan bajik yang  bernama Naciketah menyatakan bahwa ayahnya berada dalam keadaan yang benar-benar menyedihkan, akibat dari pemberiannya yang penuh dosa itu. Si anak ingin menyelamatkan ayahnya dari nasib buruk, sejauh kemampuannya dan ia minta kepada ayahnya untuk mempersembahkan dirinya sebagai pemberian kepada seseorang yang dikehendaki ayahnya. Ia mendesak kepada ayahnya agar ia juga diberikan kepada seseorang. Mendengar permintaan anaknya demikian, sang ayah menjadi gusar dan berteriak dengan rasa jijik, “Aku akan memberikanmu kepada penguasa kematian”. Dalam hal yang demikian, Naciketa berketetapan bahwa kata-kata ayahnya harus ditepati walaupun diucapkan pada jiwa-loka, yang terpengaruh oleh kelahiran dan kematian. Oleh karena itu, ia memohon kepada ayahnya untuk mempersem-bahkan dirinya dalam upacara ritual yang ketat, sebagai sebuah pemberian kepada Yama.

Naciketa segera  meneruskan perjalanannya menuju tempat kediaman penguasa kematian. Ia telah menunggu selama tiga hari sebelum ia dapat melihat Yama. Penguasa kematian merasa sedih dan minta maaf atas keterlambatannya menerima tamu seorang  Bràhmaóa dan mempersilakan Naciketah (dengan cara penebusan dosa) memilih tiga hadiah, satu untuk setiap malam yang ia habiskan di luar pintunya.

Pertama-tama Naciketah menghendaki, apabila ia kembali ke rumah dan ke tempat asalnya, atas perintah-Nya, agar ayahnya mau menyambutnya dengan senang, bebas dari segala kemarahan yang tidak pada tempatnya dan penuh dengan ketenangan mental, dan keinginannya yang kedua adalah untuk mengetahui rahasia absennya rasa lapar atau haus ataupun ketakutan akan kematian di surga. Yama dengan suka hati memberikan  kedua permintaan ini, dan sebagai tambahan, Yama mentahbiskannya dalam sebuah ritual khusus, beserta rahasianya. Naciketah mendengarkan dengan penuh hormat dan menyimak rincian dari ritual tersebut dengan cepat dan jelas. Yama sangat senang dengan murid barunya ini dan Ia memberi nama baru kepada Yàga tersebut sebagai Naciketah Agni; yang merupakan hadiah tambahan bagi pengelana muda ini. Naciketah berkata; “Junjunganku! Manusia itu mesti mati; tetapi beberapa orang mengatakan bahwa kematian bukanlah akhir, dan bahwa ada suatu kesatuan yang disebut àtma yang menghidupi badan dan indriya; sedangkan orang lain menyatakan bahwa tidak ada kesatuan seperti itu. Sekarang, karena aku memiliki kesempatan, aku ingin mengetahui tentang àtma dari‑Mu. 

Yama ingin menguji keyakinan akan ketabahan si penanya dan ketegarannya untuk mengetahui kebijaksanaan tertinggi. Apabila ia tidak layak, Yama tidak ingin menyampaikan pengetahuan tersebut kepadanya. Lalu, Ia bersedia memberikan berbagai macam hadiah yang berhubungan dengan kemakmuran duniawi dan kebahagiaan, kepadanya. Ia mengatakannya bahwa àtma adalah sesuatu yang sangat halus dan sukar dimengerti, yang melampaui pencapaian pemahaman biasa dan ia meletakkan beberapa buah hadiah yang dapat dinikmati ‘lebih cepat’ dan ‘lebih baik’, dihadapannya. Naciketah menjawab : “Junjunganku yang terhormat ! Uraianmu tentang kesulitan memahaminya membuat aku merasa bahwa aku tak akan melewatkan kesempatan ini, karena aku tak dapat memperoleh guru lain yang lebih mampu dari pada-Mu untuk menjelaskan hal tersebut kepadaku. Aku minta hal ini sebagai hadiah yang ketiga dan tidak yang lainnya. Pilihan hadiah yang Engkau sampaikan kepadaku tak dapat meyakinkanku akan keabadian manfaatnya, dan hanya àtmajñàna sajalah yang dapat memberikan manfaat seperti itu.” 

Melihat kenyataan akan ketabahan serta sraddha dari Naciketah sedemikian  itu, Yama terkesan dan menyimpulkan bahwa ia pantas untuk menerima kebijaksanaan tertinggi tersebut. Yama berkata “Baiklah, anakku sayang! Ada dua type pengalaman dan dorongan hati yang berbeda, yang disebut sebagai sreyas dan preyas yang keduanya mempengaruhi sang pribadi; yang pertama membebaskan  sedangkan yang ke dua mengikat. Yang satu membawa pada pembebasan dan satunya membawa pada penjelmaan kembali. Apabila kamu mengejar jalan preya, kamu meninggalkan realisasi dari tujuan tertinggi manusia, jauh di belakang. Jalan sreya dapat dikenali hanya jalan preya ditelusuri oleh mereka yang bodoh dan murtad. Widyà memperlihatkan jalan preyas. Secara alamiah, mereka yang mencari jalan sreya sangatlah jarang.” 

Yama melanjutkan; “àtma itu tenang, tak tergoyahkan; ia adalah kesadaran yang tak terbatas dan penuh. Mereka yang telah mengetahui àtma, tak akan tergerak oleh pemikiran dualitas dari “ada” dan “tidak ada”, “si pelaku” dan “bukan si pelaku” dan sebagainya. Àtma juga bukanlah suatu obyek yang diketahui! Ia bukanlah yang mengetahui yang diketahui maupun proses mengetahui atau pengetahuan. Pengungkapan hal ini merupakan visi teramat tinggi; dan pemberitahuan satu hal ini merupakan instruksi tertinggi. Instrukturnya adalah Brahman, dan yang diinstruksikan juga adalah Brahman. Realisasi dari kebenaran yang senantiasa ada ini, menyelamat-kan seorang dari segala keterikatan dan gangguan sehingga ia membebaskan seseorang dari kelahiran dan kematian. Rahasia besar ini tak dapat dicapai dengan logika dan harus diperoleh dengan keyakinan pada Småti dan dialami.” 

Àtma hanya mampu diketahui setelah melalui ketabahan yang maha besar. Seseorang harus mengalihkan pikirannya dari kebiasaan alami, yaitu dunia obyektif, dan menjaganya tetap tenang tak tergoyahkan. Hanya seorang pahlawan yang dapat berhasil dalam petualangan dalam sendirian dan mengatasi rangsangan-rangsangan ke-akuan dan khayalan! Kemenangan itu sendiri sajalah yang dapat melepaskan ketakutan.”

Ajaran Wedànta merupakan kebenaran tertinggi yang mampu diwujudkan oleh semua orang. Semua naskah menyatakan hal tersebut dengan satu pendapat, dan ia juga menyatakan bahwa pranàwa atau suku kata tunggal merupakan simbol dari Para dan Apara Brahman; dan juga menyatakan bahwa upàsanà dari pranàwa membawa dalam pencapaianmu pada tahap Hiraòyagarbha dan membantumu untuk mencapai dua tahapan dari Brahman. Hiraòyagarbha diselimuti oleh tirai paling tipis dari màyà dan melalui , ia dapat disingkapkan dan Para serta Apara Brahman dapat diwujudkan. 

Kaþhopaniûad juga menguraikan dengan teliti mengenai àtma dalam berbagai cara. Dikatakan bahwa àtma tak dapat diukur, dan tak akan pernah dapat diberi batasan-batasan, walaupun nampaknya demikian itu. Bayangan matahari pada sebuah danau, bergelombang dan goncangan akibat dari gelombang dan goncangan air; sedangkan mataharinya sendiri jauh di atas sebagai saksi. Ia tak terpengaruh oleh media yang menghasilkan bayangan tersebut. Demikian pula àtma yang merupakan saksi dari semua perubahan dalam ruang dan waktu. 

Jìwa yang dipribadikan oleh kebodohan, merupakan peserta dari buah perbuatan benar dan salah, baik dan jahat; sedangkan jìwa memalsukan ikatan melalui ke-akuan dan melepaskan ikatan tersebut melalui buddhi, sebagai daya perlawanan dari kebodohan. Mewujudkan semuanya itu merupakan perolehan kesempatan dan indriya-indriya (luar dan dalam) memadamkan kegiatan-kegiatan. Mengesampingkannya sebagai palsu dan menyesatkan; menggabungkan semuanya dalam manas. Kembalikan manas ke dalam buddhi, dan buddhi atau kecerdasan yang dipribadikan ke dalam kecerdasan kosmis Hiraòyagarbha, dan setelah mencapai tahapan sàdhanà tersebut, gabungkan kecerdasan kosmis pada àtmatattwa, yang tiada merupakan satu perwujudan. Kemudian kamu mencapai tahapan Nirwikalpasamàdhi atau ketenangan dalam kesatuan mutlak sempurna yang tak tergoncangkan yang merupakan sifatmu yang sesungguhnya. Itulah rahasia yang diuraikan oleh Upaniûad ini yang merupakan kenyataan bahwa semua ciptaan itu merupakan suatu pertumbuhan dari nama dan rùpa.

Dikelirukan oleh màyà (khayalan), kamu tak mampu melihat gurun tandus, dan takut oleh ular (yang kamu bayangkan pada seutas tali), kamu tak mampu membedakan realitas dasar. Khayalan yang tak memiliki awal yang memburu sang jìwi harus dihancurkan. Mantra ke-14 dari Upaniûad ini membangkitkan sang jìwi  dari tidur berabad-abad dan  menuntunnya menuju tujuan. Àtma itu sendiri mengatasi sabda, sparsa, rùpa, rasa dan gandha, serta tak mengenal akhir. Indriya-indriya merupakan pengikat obyek, dan mengikatkan ke arah luar. Àtma merupakan peralatan utama bagi segala kegiatan dan pengetahuan yaitu daya motif bathin di belakang segala sesuatunya ini. Khayalan yang bermacam-macam, bertumpuk-tumpuk tak terhitung jumlahnya itu, harus mati, yang berasal dari ajñàna. “Banyak” di sini merupakan suatu khayalan yang disebabkan oleh “keadaan”, yaitu suatu perasaan bahwa kamu terpisah dari Yang Esa, yang merupakan asal mula dari segala sesuatu yang tampaknya lahir dan mati, yang tampaknya dialami oleh pribadi-pribadi. Yama kemudian menyatakan sifat Brahman kepada Naciketah, untuk melepaskan keragu-raguan tentang masalah tersebut.

Seperti sebuah sinar yang terhalang asap, Puruûa yang seukuran jempol (Angustamatra) bersinar selamanya. Seperti banjir akibat hujan deras yang jatuh di pegunungan, terpecah-pecah menjadi ribuan aliran air, demikian pula sang jìwi, yang merasa banyak dan berbeda, jatuh ke bawah dengan sia-sia. Upaniûad ini menyatakan bahwa tak sesuatu pun yang lebih tinggi dari pada àtma, atau pun menyamainya. Akar dari sebatang pohon tak terlihat, dan tersembunyi di bawah tanah, tetapi pengaruhnya terbukti kelihatan pada bunga yang dapat dilihat, bukan ? Hal ini merupakan kenyataan dari saýsàrawåkûa, atau pohon kehidupan. Dari pengalaman tersebut kamu harus dapat menyimpulkan bahwa akar, yang dalam hal ini adalah Brahman, merupakan penghidup dan penunjang, kata Yama.

Pohon Saýsàra itu seperti pohon mangga sulapan, yang hanya merupakan ilusi. Mereka yang telah memurnikan buddhi-nya dapat meli-hat di dalamnya, seperti pada sebuah cermin yang baik, sang àtma berada dalam setiap kehi-dupan. Brahman adalah jñeyam, yaitu sesuatu yang diketahui oleh para pencari pengetahuan, dan juga adalah upasyam, yaitu sesuatu yang dicapai oleh para pencari pencapaian. Seorang jñàni dibebaskan oleh visualisasi dari Brahman, tetapi seorang Upàsaka mencapai Brahmaloka setelah kematian. Di sana ia bergabung pada Hiraòyagarbha dan pada akhirnya kalpa, ia dibebaskan bersama-sama dengan Hiraòya-garbha dan pada akhir kalpa, ia dibebaskan bersama-sama dengan Hiraòyagarbha itu sendiri. 

Naciketah memahami Brahmawidyà yang diajarkan Yama kepadanya ini tanpa satu cacat pun; dan ia dibebaskan oleh kematian dan mencapai Brahman. Selama Brahmawidyà ini diperhatikan, maka mereka yang mencoba untuk mengetahui hal ini menjadi seorang yang berkepribadian lebih baik, terbebas dari cacat dosa. 

Upaniûad ini telah mengajarkan dalam banyak cara, pokok-pokok mendasar tentang Pranàwaswarùpa, úreyas dan brahmawidyà , uraian ini adalah untuk memberitahumu sekarang ini tentang inti sari dari ajaran ini. Sudah barang tentu, satu mantra sudah cukup untuk menyelamatkan mereka yang telah mempertajam kecerdasan dan menginginkan pembebasan sepenuhnya. 

Àtma itu seperti samudra, dan untuk menyuruh seseorang memahaminya, kamu tak perlu memintanya untuk meminum seluruh air samudra tersebut. Setetes air yang ditaruh di lidah akan memberinya pengetahuan yang diperlukan. Demikian pula, apabila kamu menghendaki untuk mengetahui Upaniûad, kamu tak perlu mengikuti setiap mantra. Pelajari dan alami pengertian dari satu mantra; kamu dapat mewujudkan tujuanmu tanpa kegagalan. Pelajari dan laksanakan, itulah rahasia dari segala ajaran spiritual. 

 Kaþha Upaniûad, juga disebut Kaþhakopaniûad yang termasuk dalam aliran Taittirìya dari Yayur Veda, memakai tema ceritera yang terdapat dalam susastra Devanagari (Sanskerta) kuno.442 Seseorang bràhmaóa yang miskin dan saleh. Vàjaúravasa, melaksanakan yajña dan mendermakan kepada para pendeta, sapi-sapi yang sudah tua dan linglung. Putranya Naciketa merasa risih atas pelaksanaan yajña yang tidak sesuai dengan aturan yang dilakukan oleh ayahnya, mengusulkan supaya dirinya saja yang dijadikan korban (daksinà) untuk salah seorang pendeta. Ketika dia bersikeras dalam permintaannya, sang ayah menjadi marah sekali dan mengutuk: ‘Kepada Yama kamu akan kuberikan’. “Naciketa pergi ke tempat persemayaman Yama dan tidak menemukan beliau di sana ; dia menunggu sampai 3 hari 3 malam tanpa makan. Yama ketika kembali menjanjikan tiga hal kepada Naciketa atas hal yang dialaminya. Permintaan Naciketa pertama adalah supaya dia bisa kembali hidup dengan orang tuanya. Permintaannya yang kedua: “Ceritakan kepada hamba bagaimana perbuatan baik (istà-purta) hamba tidak akan habis-habisnya”, dan permintaan ketiga: “Ceritakanlah kepada hamba bagaimana mengatasi kematian kembali”, (punar mrtyu). Pada Upaniûad ini permintaannya yang ketiga dianggap sebagai jalan penerangan pada saat “transisi besar” yang disebut kematian. Upaniûad ini, terdiri dari 2 pasal dan masing-masing pasal terdiri dari tiga Valli atau bagian. Ada beberapa pesan-pesan yang umum yang bisa ditemukan baik dalam Gità maupun dalam Kaþha Upaniûad. 

 MANTRA

s h navvtu - sh nO .unµ¦ - sh v¢y| krvavhW - tejiSv nav/¢tmStu - ma iviÜzavhW - AO' xaiNt" xaiNt" xaiNt" --

sa ha nàv avatu, saha nau bhunaktu, saha vìryaý karavàvahai: tejasvi nàv adhìtam astu: mà vidviûàvahai; auý úàntiá, úàntiá, úàntiá.

Semoga Dia melindungi kami berdua; Semoga Dia berkenan kepada kami berdua; semoga kami bisa bekerja bersama dengan semangat: semoga pelajaran kami menerangi kami; semoga tidak ada ketidakcocokkan diantara kami berdua; Aum, úàntih, úàntih, úàntih.

  • Lihat juga T.U.II dan III. Murid dan guru berdoa untuk kerja sama yang harmonis dalam mempelajari sungguh-sungguh dan bersemangat

       

    BAB I

    Bagian 1

    NACIKETA DAN AYAHNYA

      £xNh vW vajè[vs" svRveds' ddO - tSy h nickwta nam pu] Aas --1--

    1. uúan ha vai vàjaúravasaá sarva-vedasaý dadau. tasya ha naciketà nàma putra àsa.

    1. Mengharapkan (buah dari yajña Viúvajit) Vàjaúravasa, kata mereka, mendermakan semua yang dimilikinya. Dia memiliki seorang putra bernama Naciketa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar