Senin, 30 April 2012

Isawasya Upanisad

PENDAHULUAN UMUM UPANIÛAD

A.  Upaniûad
Upaniûad adalah kelompok buku-buku Veda yang merupakan bagian akhir dari Veda (Mantra). Kitab Upaniûad ini dinamakan kitab VEDÀNTA mengingat kedudukannya sebagai bagian akhir (anta) dari Veda.


Menurut isinya, kitab VEDÀNTA dibedakan antara dua jenis, yaitu yang isinya memuat pokok-pokok ketentuan mengenai rituil (karma) yang disebut sebagai kitab KARMA KÀÓÐA, dan kelompok kitab-kitab yang memuat ajaran Ketuhanan yang dikenal dengan nama kelompok JÑÀNA KÀÓÐA.
Adapun kitab KARMA KÀÓÐA ini lebih umum dikenal dengan nama Bràhmaóa atau kitab Bràhmaóa. Bràhmaóa artinya doa. Tiap-tiap Veda mempunyai kitab Bràhmaóanya. Kitab Bràhmaóa ini ada tujuh banyaknya, yaitu, Aitareya Bràhmaóa, Kauûìtaki Bràhmaóa (Saòkhyayana Bràhmaóa), Tàóîya Bràhmaóa (Pañcawiýúa Bràhmaóa), Ûaîviýúa Bràhmaóa, Taittirìya Bràhmaóa, Úatapatha Bràhmaóa dan Gopatha Bràhmaóa. Adapun Kitab Aitareya dan Kauûìtaki Bràhmaóa, kedua-duanya merupakan bagian dari kitab Åg. Veda sedangkan kitab Tàóîya Bràhmaóa dan Ûaîviýúa Bràhmaóa, kedua-duanya merupakan bagian dari kitab Sàma Veda. Adapun kitab Yajur Veda yang terdiri atas Yajur Veda Hitam dan Yajur Veda Putih masing-masing mempunyai kitab Taittirìya Bràhmaóa dan Úatapatha Bràhmaóa sedangkan untuk kitab Atharva Veda mempunyai kitab Gopatha Bràhmaóa.
Kitab Bràhmaóa merupakan bagian kedua dari Veda adalah kitab rituil yang diharapkan akan menjadi buku pedoman bagi para Pendeta Bràhmaóa yang kian hari tata upacara itu makin bertambah rumit. Berdasarkan kitab Bràhmaóa inilah kita mulai mengenal tata cara pelaksanaan rituil itu sangat formil sehingga dengan demikian pelak-sanaan ajaran agama Hindu makin menjadi sulit dan harus memenuhi semua formalitas yang hanya dikuasai oleh kaum Bràhmaóa ahli (Viprà). Dengan demikian tidak dapat dielakkan makin bertambah besarnya peranan kaum Bràhmaóa yang kemudian mengkhususkan diri mereka dalam bidang yajña. Dengan demikian kitab Bràhmaóa kian hari kian bertambah besar peranannya.
Adapun bagian ketiga dari kitab Veda, yang dianggap juga sebagai bagian terakhir dari Veda adalah kitab Upaniûad. Kitab ini disebut juga kitab Rahasia karena isinya mengajarkan tentang hal-hal yang bersifat gaib (guhya atau rahasya dan sùkûma), yaitu sifat dan hakekat TUHAN YANG ESA. Kitab Upaniûad inilah yang memuat berbagai ajaran yang membahas ajaran Ketuhanan (Brahma Vidyà) yang merupakan dasar dari kehidupan beragama Hindu.
Kata UPANIÛAD berasal dari kata UPA (dekat) - NI (di bawah) - SAD (duduk), berarti duduk di bawah dekat (guru) untuk mendengarkan upadeúa (ajaran), mengenai Tuhan, penderitaan, surga-neraka dan mokûa. Kitab Upadeúa memuat ajaran yang bersifat ilmiah dan karena itu Upaniûad merupakan kitab pengetahuan (jñàna) yang dapat membuka mata hati pembacanya dalam membuka misteri kehidupan alam semesta ini sehingga menjadikan para jñàni itu bijaksana (viprà).
Sebagaimana halnya dengan kitab-kitab Bràhmaóa, kitab Upaniûad merupakan bagian dari tiap-tiap Veda yang membahas aspek theologinya, berbeda dari kitab Bràhmaóa yang membahas aspek rituil atau karmanya. Penelitian berbagai kitab Upaniûad telah lama dilakukan oleh para sarjana Indologi baik di India maupun di Barat.
Diri berbagai hasil penelitian telah diketemukan tidak kurang dari 108 buah kitab Upaniûad. Tiga belas diantaranya dianggap sebagai kitab Upaniûad yang paling tua, yaitu, Chàndogya, Båhadàraóyaka, Aitareya, Taittirìya, Kaþha, Ìúà, Muóîaka, Kauûìtaki, Kena, Praúna, Úvetàúvatara, Màóîùkya dan Maitri Upaniûad. Tentang jumlah itu terutama dapat kita ketahui dari tulisan Úaòkaràcarya, terkenal karena pemba-hasannya atas sepuluh jenis Upaniûad yang mungkin merupakan buku yang paling dikuasainya. Salah satu dari kitab Upaniûad yang dibahas adalah kitab MUKTIKOPANIÛAD dimana dari Bab I terdapat penjelasan-penjelasan yang menyebut nama-nama kitab Upaniûad yang dimaksud dan hubungannya dengan tiap-tiap kitab Mantra (Veda), terjemahannya adalah sebagai berikut :

1. Aitareya, Kauûìtaki, Nàdabindu, Àtmaprabodha, Nirvàóa, Mudgala, Akûamàlikà, Tripurà, Saubhagya dan Bahvåca, kesepuluh jenis Upaniûad ini tergolong masuk jenis Åg Veda.
     OÝ, semoga kata-kata saya sesuai dengan pikiran saya. Semoga pikiran saya bersandar sesuai dengan kata-kata saya. O Yang Maha Ada, Brahman, walaupun demikian adanya, perlihatkanlah pada saya. Engkau adalah pikiran dan Úabda, jadilah, mampu menuntun saya pada Veda. Mudah-mudahan Veda yang saya pelajari dari Guru saya tidak menyesatkan saya. Dengan mempelajari Veda itu, siang dan malam saya dapat bersatu, saya akan mengatakan Yang Maha Benar (SATYA), Yang nyata (ÅTA).  Semoga IA melindungi saya. Semoga IA melindungi dia Yang mengajar saya. Lindungilah saya dan dia Yang mengajar saya. OÝ, Úànti, Úànti, Úànti.

2.  Ìúàvasya, Båhadàraóyaka, Jàbàla, Haýsa, Parama-haýsa, Subàla, Màntrika, Niràlambha, Trisìkhi-bràhmaóa, Maóîalabràhmaóa, Advayatàraka, Paiògala, Bhikûu, Turìyàtìta, Adhyàtma, Tàrasàra, Yàjñavalkya, Satyayani dan Muktikà Upaniûad, semua kesembilan belas kitab Upaniûad ini termasuk golongan Úukla Yajur Veda.
OÝ, semua adalah ITU, semua adalah INI. Dari Yang sempurna itulah timbulnya ini. Dengan mengambil yang SEMPURNA itu semua dari Yang Sempurna tinggalah Yang Sempurna itu. OÝ, úànti, úànti, úànti.

3.  Kaþhawali, Taittirìyaka, Brahma, Kaivalya, Úvetàúvatara, Garbha, Nàràyaóa, Amåtabindu, Amåtanàda, Kàlàgnirudra, Kûurika, Sarvasàra, Sukarahasya, Tejobindù, Dhyànabindù, Brahmavidyà, Yogatattva, Dakûióàmùrti, Skanda, Úarìraka, Yogaúikha, Ekàkûarà, Akûi, Avadhùta, Kaþha, Rudrahådaya, Yogakundalini, Pañca-brahma, Pràóàgnihotra, Vàràha, Kalisaòtaraóa dan Sarasvatìrahasya Upaniûad, semua ketigapuluh dua kitab Upaniûad ini tergolong kitab Kåûóa Yajur Veda.

OÝ, semoga IA melindungi kami kedua duanya (guru dan siûya), semoga Ia memelihara kedua kami, semoga kami bekerja sama untuk mendapatkan kekuatan (dari kebijaksanaan itu). Semoga pelajaran kami menuntun kami kepada kecemerlangan. Semoga tidak ada kekurangan rasa cinta diantara kami. Oý, úànti, úànti, úànti.

4.  Kena, Chàndogya, Àruói, Maitràyaói, Maitreyì, Vajraúùcika, Yogacùîàmaói, Vàsudeva, Mahat, Saýnyàsa, Avyàkta, Kuóîika, Sàvitrì, Rudràkûajàbàla, Darúana dan Jàbàli Upaniûad, semua keenambelas Upaniûad ini termasuk kitab Sàmaveda.
    
 OÝ, semoga anggota tubuh hamba menjadi kuat, ucapan, nafas, mata, telinga dan tenaga hamba semua menjadi kuat. Demikian pula seluruh indriya hamba. Semua adalah Brahman dari Upaniûad. Semoga hamba tidak pernah mengingkari Brahman (TUHAN). Semoga Tuhan tidak mengingkari hamba. Semoga semua DHARMA yang diajarkan dalam Upaniûad menjadi bagian dari hidup hamba yang mengabdikan diri hamba untuk ÀTMAN. Semoga kesemuanya itu ada pada hamba. OÝ úànti, úànti, úànti.

5.  Praúna, Muóîaka, Màóîùkya, Atharvaúira, Atharva-úikha, Båhajjàbàla, Nàrasiýha tàpanì, Nàrada parivràjaka, Sìtà, Sarabha. Mahànàràyaóa, Ràma-rahasya, Ràmatàpanì, Úàndilya, Paramahaýsa parivràjaka, Annapùróa, Sùrya, Àtma, Paúupata, Parabrahma, Tripuràtàpanì, Devì, Bhàvanà, Brahma, Gaóapati, Mahàvàkya, Gopàlatàpani, Kåûóa, Hayagrìva, Dattàtreya dan Garuîa Upaniûad, semua ketiga puluh satu Upaniûad ini termasuk jenis Atharwa Veda.
     
 OÝ, semoga apa saja yang suci dapat kami dengar melalui telinga kami, oh, Dewa, apapun juga yang suci itu dapat kami lihat dengan mata kami yang tidak sempurna ini. Semoga dengan tubuh dan anggota badan yang kuat ini kami dapat memuja-Mu, menghidupi Dewa-dewa yang mengendalikan masa hidup kami ini. Semoga kami sejahtera, sebagai kejayaan yang ada pada Indra; semoga kami sejahtera, yang Pùûan limpahkan, Yang Maha Tahu; Semoga sejahteralah kami, yang Tarkûya limpahkan tiada halangan; semoga sejahteralah kami yang Båhaspati limpahkan. Oý Úànti, Úànti, Úànti.

Dari terjemahan atas kelima pasal-pasal itu, dapat dikemukakan bahwa menurut kitab Muktikopaniûad (Muktika+Upaniûad) itu terdapat sebanyak 108 nama-nama kitab Upaniûad menurut golongan Veda mantra yang merupakan kitab induknya masing-masing. Sayangnya dari semua kitab Upaniûad itu tidak banyak dikenal nama-nama penulis atau penghimpunnya. Dr. S. Ràdhàkriûhóan (Alm.), dalam bukunya Indian Philosophy, mencoba menyebutkan beberapa nama yang mungkin dianggap ada hubungannya dengan penulisan kitab-kitab Upaniûad itu, seperti, Prajàpati, Indra, Nàrada dan Sanatkumàra sebagai tokoh dialektikus sedangkan nama-nama lainnya yang diduga nama Maharûi penulis Upaniûad lainnya a.l., Mahidàsa, Aitareya, Raikva, Úàóîilya, Satyakàma, Jàbàla, Javali, Uddàlaka, Úvetaketu, Bhàradvàja, Gàrgyàyaóa, Pratardana, Balàkì, Ajàtaúatru, Varuóa, Yàjñavalkya, Gàrgi dan Maitreyì.

Dalam penulisannya, tidak semua kitab Upaniûad itu ditulis dalam bentuk puisi. Diantara kitab-kitab Upaniûad itu banyak pula diantaranya yang ditulis dalam prosa. Dr. Deussen dalam penelitiannya mengelompokkan jenis Upaniûad menurut cara penulisannya menjadi tiga kelompok, yaitu :

  1. Kelompok Upaniûad yang ditulis dalam prosa tua, a.l. kitab Båhadàraóyaka, Chàndogya, Taittirìya, Aitareya, Kauûìtaki dan Kena. Kitab terakhir ini sebagian ditulis dalam bentuk puisi.
  2. Kelompok Upaniûad yang ditulis dalam bentuk puisi, a.l. Ìúà, Kaþha, Muóîaka dan Úvetàúvatara.
  3. Kelompok Upaniûad yang ditulis dalam bentuk prosa kemudian, a.l. kitab Praúna dan Maitràyani Upaniûad.

Pada umumnya dinyatakan bahwa hampir semua kitab Upaniûad tergolong jenis klasik, kecuali Maitràyani.


B. Jaman Upaniûad.

Sejak kapankah Upaniûad itu mulai diajarkan, tidak diketahui dengan pasti. Menurut perkiraan para sarjana Indologi sebagaimana juga dikemukakan oleh Dr. S. Radhakrishnan dalam buku beliau, Indian Philosophy, bahwa walaupun umur Upaniûad tidak diketahui pasti, namun dapat ditegaskan bahwa Upaniûad telah ada jauh sebelum jamannya Buddha Siddharta. Ini berarti bahwa Upaniûad setidak-tidaknya telah ada pada abad VI.  S.M.

Telah ditetapkan perkiraan umur Upaniûad diantara abad X. S.M - III SM. (1000 SM - 300 SM.). Penetapan umur Upaniûad yang paling muda, yaitu pada abad III SM, sesudah jaman Buddha berdasarkan umur kitab Upaniûad yang dibahas oleh Saòkaràcàrya.

Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa umur kitab Upaniûad adalah sebanding dengan umur kitab Dharmaúàstra. Jangka waktu masa umur Upaniûad yang luas meliputi ratusan Tahun itu kita jumpai berdasarkan banyaknya kitab Upaniûad. Dan telah dinyatakan pula bahwa kitab Upaniûad itu tidak ditulis dalam satu jaman.


C. Ìúà Upaniûad

Ìúà Upaniûad juga disebut Ìúavasyam Upaniûad, merupakan satu dari berbagai jenis kitab Upaniûad. Kitab upaniûad ini merupakan kitab Upaniûad yang terpendek dan terkecil dari seluruh jenis kitab Upaniûad tetapi merupakan kitab Upaniûad yang terpenting diantara semua kitab Upaniûad di dalam-agama Hindu. Sebagai kitab Upaniûad terkecil, kitab ini hanya terdiri atas 18 mantra atau úloka atau pasal.

Menurut asal usul isinya, Ìúà Upaniûad selalu dikaitkan dengan kitab Úruti, yaitu, kitab Yajur Veda Putih (Úukla Yajur Veda). Hal ini karena Ìúà Upaniûad adalah merupakan salah satu Adhyàya (Bab atau Buku) dari kitab Yajur Veda itu, yaitu merupakan Adhyàya ke 40.

Kitab Yajur Veda Putih ini dikenal pula dengan nama lain yaitu kitab Vàjasaneyi atau Vàjasaneyi Saýhità. Vàjasaneyi (a), adalah gelar seorang Maha Åûi yang menghimpun mantra-mantra Yajur Veda Saýhità itu. Oleh karena itu pula, kitab Ìúà Upaniûad ini dikenal pula dengan nama Vàjasaneyi Saýhità Upaniûad atau disingkat hanya disebut Vàjasaneyi Upaniûad.

Dengan melihat kedudukan Ìúà Upaniûad terhadap kitab Yajur Veda itu, jelaslah kalau dapat kita katakan bahwa Ìúopaniûad itu adalah kitab Úruti. Kitab Yajur Veda adalah merupakan salah satu dari Catur Veda (Åg.  Veda, Sama Veda, Yajur Veda dan Atharwa Veda).

Kitab Yajur Veda, menurut arti dan pengertian kata Yajur Veda itu kitab ini memuat ajaran mengenai ilmu Yajña atau cara pemujaan Tuhan. Yajur adalah bahasa Sanskerta, berasal dari akar kata Yaj, yang berarti melakukan Yajña atau melakukan pemujaan dan hubungan dengan Tuhan. Veda berarti pengetahuan. Vid artinya mengetahui atau ilmu. Dengan demikian maka kitab Veda ini adalah merupakan kitab yang mempelajari ilmu mengenai cara melakukan yajña atau melakukan hubungan dengan Tuhan.

Pada waktu diusahakannya pengkodifikasian mantra-mantra Yajur Veda itu, telah timbul perpecahan diantara para penghimpunnya sehingga akhirnya timbul perbedaan antara dua macam jenis kitab Yajur Veda, yaitu, Yajur Veda Hitam (Kåûóa Yajur Veda) dan Yajur Veda Putih (Úukla Yajur Veda). Menurut catatan-catatan yang ada, kita jumpai dua Maha Åûi yang mencoba mengumpulkan Yajur Veda itu, yaitu, Taittirìya dan Vàjasaneya (i). Rupa-rupa dalam penamaan hasil penghimpunan itu disebut atas nama para Åûi itu sehingga mula-mula kita mengenal dua jenis kitab Yajur Veda, yaitu yang disebut Taittirìya Yajur Veda dan Vàjasaneya Yajur Veda. Melihat dari cara pengumpulannya, apa yang dilakukan oleh Åûi Taittirìya agak kurang jelas atau masih samar-samar sehingga akhirnya kitab ini dikenal sebagai kitab Kåûóa Yajur Veda. Menurut para penyelidik yang dilakukan oleh prof. Dr. Ralp. T.H. Griffith, salah seorang tokoh Indologis, bekas rektor di Benares di dalam tulisan beliau waktu menter-jemahkan kitab Yajur Veda itu mengatakan bahwa kata Kåûóa rupa-rupanya hanya sebagai gelar atau sebutan karena dianggap isinya itu masih belum jelas. Berbeda dengan apa yang telah diusahakan oleh Vàjasaneya, isinya lebih lengkap dan pengertian yang diberikan lebih jelas. Karena itu pada yang dikenal sebagai Yajur Veda Putih atau Úukla Yajur Veda.

Adapun kitab Úukla Yajur Veda yang diketahui sekarang terdiri atas dua resensi, yaitu resensi Madhyandina dan resensi Kanva. Usaha Penterjemahan terhadap keseluruhan Veda, termasuk penterjemahan kitab Yajur Veda telah lama dilakukan dibeberapa negara. Di Indonesia pun usaha ini tengah dilakukan namun hasilnya belum banyak dapat dilakukan.

Dr. Ralp. T.H. Griffith sendiri telah pula mengalih bahasakan kitab Yajur Veda itu kedalam bahasa Inggris pada tahun 1899 sedangkan resensi Madhyandina, telah pula dialih bahasakan oleh Pandit Jabananda Widyasagara, jauh sebelum usaha yang dilakukan oleh Dr. Ralp. T.H. Griffith berhasil menterjemahkannya. Edisi keduanya dari hasil karya Pandit Jabananda Widyasagara terjadi ditahun 1892. Bagian-bagian dari kitab Yajur Veda telah diterjemahkan tahun 1846, yaitu buku IX dan X.

Dalam rangka pengadaan sarana kehidupan beragama bagi masyarakat beragama Hindu, usaha penterjemahan ini telah pula dirintis sejak tahun 1967 tetapi semua usaha-usaha itu masih belum mencapai sasarannya karena berbagai kesulitan teknis yang besar sekali pengaruhnya terhadap usaha kerja penterjemahan itu. Disamping itu kesulitan dalam mengalih bahasakan adalah untuk mencoba mengemukakan apa yang sebenarnya menjadi dasar pemikirannya perlu dirumuskan benar-benar sehingga makna dan tujuannya tidak pula akan menyimpang dari naskah itu.

Bagian terakhir yang dikerjakan dari buku itu adalah Adhyàya 40 itu sendiri, yang sekarang kita kenal dalam terjemahan ini dan kita tulis terpisah dengan nama Ìúà Upaniûad atau Ìúopaniûad. Penghususan terjemahan ini karena dalam rangkaian penterjemahan kitab-kitab Upaniûad, Ìúà Upaniûad tampak sebagai salah satu dari kitab Upaniûad sehingga dengan demikian secara sepintas lalu kita akan mempunyai dua macam buku sekali kerja, yaitu bagian terkecil dari kitab Yajur Veda dan salah satu dari kitab Upaniûad.

Kitab ke 40 Yajur Veda itu disebut Upaniûad karena isinya agak lain dari Adhyàya-Adhyàya terdahulu lainnya. Isinya memuat semacam ajaran keagamaan yang mengan-dung unsur ajaran kefilsafatan yang mendalam mengenai ajaran ketuhanan (Ìúavasyam). Ini sesuai menurut nama yang diberikan yaitu Ìúà Upaniûad yaitu upaniûad tentang Ìúà. Ìúà (Ìú) berarti Jiwa dari seluruh alam semesta. Gelar ini diberikan karena di dalam pengertian itu kita jumpai penjelasan bahwa alam semesta ini merupakan ciptaannya dan dihidupi (diberikan berjiwa) oleh-Nya. Karena itu Ia sebagai pemberi Jiwa, ialah Jiwa Yang Maha Ada, Yang di dalam bahasa Sanskerta disebut ÌÚÀ.

Melihat isinya, jelas kitab Upaniûad ini merupakan bagian dari ilmu pemujaan Tuhan hanya saja tidak langsung mengajarkan ilmu Yajña itu. Isinya hanyalah mengenai pokok-pokok pengertian tentang Ìúà. Walaupun isinya hanya mengenai masalah Ìúà itu, namun secara sistematis isi yang singkat itu terdiri atas beberapa ajaran yang menjadi dasar doktrin-doktrin ajaran agama Hindu.

Singkatnya, isinya mengandung ajaran-ajaran sebagai berikut :
  1. Doktrin yang mengajarkan bahwa seluruh alam semesta ini bentuk lahiriahnya adalah aneka ragamnya namun kesemuanya memiliki satu sumber yaitu sebagai ciptaan di bawah kuasa Tuhan (Ìúà)
  2. Doktrin yang mengajarkan mengenai ketidak terikatan dalam berkarma (Karma Vairàgya) karena dengan keterikatan tidak akan sampai pada tujuan. Menurut ajaran ini orang dalam melakukan kerja harus bekerja sebagaimana yang ditetapkan, dan jangan mengha-rapkan hasil dari perbuatan karma itu karena pahala itu sudah ada di dalam karma itu sendiri.
  3. Doktrin yang menjelaskan mengenai sifat paradox atau serba gandanya sifat alam semesta yang mutlak itu adalah Satu (Esa) yang dilihat secara relatip.
  4. Doktrin-doktrin mengenai ajaran tentang sifat-sifat Tuhan sebagai penguasa alam semesta.
  5. Ajaran-ajaran lain mengenai berbagai sifat ganda yang ada di dalam seluruh ajaran Ìúopaniûad, seperti pe-ngertian mengenai sambhuti-asambhuti, sambhawa-asambhawa dan lain-lain yang isinya hanya bersifat doa biasa.

Melihat beberapa materi yang menjadi masalah isi pokok Ìúà Upaniûad itu, kitab ini telah menarik banyak perhatian dan telah diterjemahkan kedalam banyak bahasa. Hare Kåûóa Consciousness Movement yang berpusat di Amerika Serikat, telah mengklaim bahwa ajaran Ìúopaniûad ini merupakan ajaran dan milik dari gerakan Hare Kåûóa. Yang jelas bahwa naskah ini adalah merupakan bagian dari Yajur Veda Putih dan kitab Veda adalah kitab suci Hindu dan karena itu naskah ini akan penting sekali artinya bagi umat Hindu di dalam mengenai pokok-pokok ajaran Ketuhanan sebagaimana yang kita lihat di dalam kitab Ìúà Upaniûad tersebut yang mengajarkan ajaran-ajaran ÌÚÀVASYA yaitu untuk melihat segala-galanya dari segi Ketuhanan (God Centered). Inilah Ìúà Upaniûad (Ìúopaniûad) lengkapnya adalah sebagai mana terurai dalam uraian berikut.




Úloka Devanàgarì, Transliterasi ke Latin, 

Arti dan Penjelasan


¡xavaSyimdm( sv| yiTkÆ jgTya' jgt( -
ten Tyµwn .uÇ¢qa ma g*/" kSy iSvd( /nm( --1-- 

Transliterasi ke Latin:
1. ìúàvàsyam idaý sarvaýyat kiñca jagatyàý jagat,
tena tyaktena bhuñjìthà mà gådhaá kasya svid dhanam.

Artinya:
Sesungguhnya apa yang ada di dunia ini, yang berjiwa ataupun yang tidak berjiwa, dikendalikan oleh, Ìúà (Yang Maha Esa), oleh karena itu orang hendaknya menerima apa yang perlu dan diperuntukkan baginya dan tidak menginginkan milik orang lain.

Penjelasan.
Ìúà dalam naskah di atas tidak saya terjemahkan untuk memberi kebebasan menggunakan istilah itu sebagai istilah yang dapat kita jumpai sesuai menurut Veda. Gelar ini diberikan kepada Tuhan dan karena itu menurut arti kata itu Ìúà adalah Tuhan Yang Maha Esa, berasal dari kata ÌÚ yang berarti ia Yang Maha Kuasa, yang memberikan kehidupan atas semua mahluk hidup di dunia ini. Kata ÌÚÀ oleh Bhakti Vedànta diter-jemahkan dengan istilah oleh Yang Maha Kuasa atau oleh Tuhan. Idam adalah kata pengganti atau kata petunjuk untuk menunjukkan semua jenis benda yang dekat. Dalam terjemahan ini, idam, dimaksudkan sebagai penunjuk dan pengganti nama atas semua benda-benda ciptaan Tuhan yang artinya ”ini” atau ”yang ini”. Jadi yang ini artinya semua benda-benda ini yaitu semua benda-benda yang ada di dunia ini.
  • Jagatyam  = di dunia, di alam semesta, di dalam masyarakat.
  • Jagat  = dunia, benda-benda hidup dan benda-benda mati di dalam dunia ini juga disebut jagat.
  • Vasyam  = dikendalikan atau dikuasai.
  • Ìúàvasya = artinya dikuasai oleh Yang Maha Kuasa.
  • Sarvam  = semua, serba.
  • Idaý sarvam =    semua serba ini.
  • Jagatyam = yang ada di dunia ini, baik yang berjiwa maupun yang tidak berjiwa.
  • Tena = olehnya.
  • Tyakta = berikan, peruntukkan.
  • Tenatyaktena = apa yang diberikan olehnya, artinya apa saja yang telah disediakan olehnya untuk kita masing-masing.
  • Bhùñjìthah = terimalah, hendaknya diterima, manfaat-kanlah.
  • = jangan, bukan.
  • Gådhaá = memakai menghendaki, mengambil
  • Kasyasvid = atas milik orang lain.
  • Dharma = harta, benda. 

Menurut rumusan kalimat terakhir, berarti bahwa apa yang telah diperuntukkan olehnya kepada kita hendaknya diterima sebaik-baiknya, jangan meng-harapkan yang lain atau jangan menghendaki milik orang lain. Orang lain di sini adalah ia yang memiliki dan menguasai atas benda-benda ini, yaitu Tuhan. Ini berarti pula apa yang diperuntukkan dan apa yang diberikan kepada seseorang menjadi wewenangnya untuk memanfaatkannya secara layak, yang telah diserahkan kepada orang lain. Dr. R.E. Hume di dalam kitabnya, The Thirtheen Pricipal Upaniûad, menterjemahkan kalimat terakhir dengan arti sebagai berikut : ”covet not the wealth of anyone at all”, yang berarti bahwa seseorang itu hendaknya jangan meng-inginkan atas harta benda milik orang lain. Atau dengan kata lain TENA TYAKTENA BHUÑJÌTHAÁ artinya hendaknya kita menerima apa yang telah diperuntukkan olehnya. Hanya inilah dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya.


k¦vRNneveh kmaRi, ijj¢ivzeC^tm( sma" -
Ev' TviynaNyqeto_iSt n kmR ilPyte nre --2-- 

Transliterasi ke Latin:
2. kurvann eveha karmàói jijìvisec chatam samàá,
evaý tvayinà nyatheto’sti na karma lipyate nare

Artinya:
Bekerja terus seperti itu dalam masa hidup ini, boleh mengharapkan hidup seratus tahun, demikian juga kamu karena karma tidak mengikat manusia, tidak sebaliknya.

Penjelasan.
  • Kurvan = lakukan terus, kerjakan saja.
  • Karmàói = segala macam kerja (perbuatan). Kata jamak untuk karma (perbuatan).
  • Eveha (eva iha) = seperti itu selama masa hidup ini.
  • Eva = seperti itu, yaitu menunjuk kejadian yang sama dilakukan berulang kali.
  • Iha = di sini, artinya selagi masa hidup ini. Dalam dunia ini.
  • Jijìvisec = orang hendaknya berkeinginan untuk hidup.
  • Chatam = seratus.
  • Samàá = tahun. Berdasarkan kalimat itu, orang umumnya dan selalu ingin hidup seratus tahun artinya hidup yang lama selama ia dapat usahakan. Demikian pula karma ini akan tetap ada dan selalu dikerjakan oleh manusia seperti biasanya, tidak mungkin lepas dari karma ini. Jadi manusia terikat pada Karma (karma bandhana).

Oleh karena itu, berdasarkan ayat 1 matra 2 di atas, orang dapat mengharapkan hidup seratus tahun selagi hidupnya ini dengan melakukan karma (perbuatan) terus menerus seperti yang sudah-sudah. Jadi tidak usah takut akan akibatnya, karena hidup itu kerja. Kenapa harus takut, misalnya takut akan dosa karena mengerjakan pekerjaan itu? Di dalam ayat berikutnya dikatakan, karma tidak menyebabkan orang terikat, yaitu dengan berbuat itu orang tidak usah memikirkan akibat dosanya. Ini yang kita jumpai dalam ajaran karma yoga. Untuk supaya tidak karma itu mengikat, kerja harus sedemikian rupa sehingga kita benar-benar tidak mendasarkan kerja itu pada satu pahala yang dijadikan cita-cita, melainkan kerja adalah karena ditentukan demikian, ia harus lakukan. Inilah ajaran karma yoga sebagai lawan ajaran karma wairagya, karma yang dilakukan oleh seorang pertapa. Na karma lipyate nare, artinya, tiada karma yang menyebabkan manusia terikat dari akibat karma itu.
  • Lipyate = yang bisa mengikatnya.
  • Anyatha = sebaliknya. Yaitu kecuali kalau kita yang mengikatkan. Ini berarti kita kerja karena mengharapkan suatu hasil sebagai pahala di dalam melakukan kerja itu. Inilah karma sebaliknya itu.
  • Tvayi = demikian pula padamu.
  • Tvam = kamu. Dengan demikian menurut mantra ini selama kita berbuat seperti yang sudah-sudah, artinya sesuai menurut aturan yang telah ditentukan untuk kerja itu, orang dapat meraih hidup lebih lama karena bila sebaliknya mantra ini tidak menjamin akibatnya.

Mengenai ajaran karma atau berkarma ini, dapat kita jumpai di dalam kitab Bhagavadgìtà, dan membedakan tiga macam jenis karma, yaitu :
1.  Karma      :  kerja yang dilakukan karena memenuhi aturan yang telah ditetapkan di dalam kitab suci itu.
2.  Akarma    :  kerja yang dilakukan dengan cara mem-bebaskan diri dari kerja dengan tidak melakukan pekerjaan. Juga disebut naiskarma.
3.  Vikarma   :  kerja yang dilakukan dengan menyalah gunakan kebebasan orang lain sehingga menyembahkan diri sendiri jatuh hina.


 AsuyaR nam te loka AN/en tmsav*ta" -
ta'Ste p[eTyai.gC^iNt ye kw caTmhno jna" --3--

Transliterasi ke Latin:
3. asuryà nàma te loka andhena tamasà våtàá,
tàýs te pretyàbhigacchanti ye ke càtma-hano janàá.

Artinya:
Pembunuh Atma, siapa pun ia itu, akan masuk ke alam Asura, dunia kegelapan dan kebodohan, kelak setelah mati.

Penjelasan.
Asuryà yaitu dunia (planet) tak bermatahari, planet yang gelap, juga diartikan sebagai dunia dimana tinggal golongan ”asura”, lawan dari dunia (alam) sura. Sura diartikan Ketuhanan, jadi alam asura adalah alam di mana mahluk-mahluk biasa hidup. Kata asura”, tradisionil dipergunakan penamaan roh-roh halus sejenis rakûasa, preta, jin, setan, yakûa, dan lain-lainnya yang banyak macamnya, sedangkan kata sura hanya diartikan untuk Ketuhanan atau kadewatan. Tetapi menurut arti kata dan konotasinya, istilah sura hanya dipergunakan untuk penyebutkan jenis yang memiliki sifat absolute seperti Tuhan Yang Maha Esa, sedangkan istilah asura diperuntukkan untuk penyebutan jenis alam yang tidak absolute seperti alam Dewa-Dewa. Yakûa, Preta, Paiúaca, Rakûasa, dan lain-lain yang puluhan jenisnya. Dengan demikian alam suraadalah ”alam Roh Kudus atau alam Para Brahman.
  • Andhena = kegelapan; kebodohan.
  • Andha = gelap, buta. Loka andhena ialah alam yang gelap, alam kebodohan, alam kegelapan. Gelap juga diartikan avidyà, keadaan ketidak tahuan atau kebodohan.
  • Àvåtaá = diliputi, tertutup oleh.
  • Tamasa = ketamakan, kebodohan, ketidaktahuan.
Tamah juga diartikan gelap pengetahuan. Baik istilah tamasa maupun andhah, kedua-duanya dipergunakan untuk mengatakan (menamakan) orang yang avidyà (ketidaktahuan), misalnya avidyà tentang kebenaran mengenai Brahman atau para Brahman. Sebabnya dikatakan avidyà dalam kalimat di atas, ialah karena sayogyanya orang harus tahu dan mengerti bahwa Brahman (Para Àtman) bersifat absolute tidak bisa mati, asal dari segala ciptaan. Membunuh Àtman adalah kesalahan pengertian yang dianggap sebagai ketidak-tahuan (avidyà). Jadi kebodohan itu dikaitkan dengan pengertian atma-hanah, yaitu membunuh Àtma, di mana Àtma tidak terbunuh oleh perbuatan apapun juga karena Àtma tidak pernah akan dapat terbunuh dan mati. Pikiran yang berpendapat bahwa atma dapat dibunuh inilah yang disebut pikiran avidyà yang menjadi sifat pengetahuan dari alam manusia atau loka asura yang disebut asuryà”.
  • Pretya = setelah mati.
Preta = roh-roh orang yang telah meninggal. Juga disebut ”pitara atau pitra”. Asura sering juga diartikan asuryà di mana kata terakhir berarti alam tak bermatahari, yaitu alam kegelapan. Di dalam agama alam kegelapan seperti itu sering dilukiskan sebagai alam ”neraka”, alam di mana para arwah ini mendapat siksaan. Kegelapan itu sendiri dianggap sebagai jenis siksaan, sebagai lawan alam kecemerlangan, alam kedewatan, alam ribuan cahaya.
  • Ye  = siapa saja, siapapun saja.
  • Ke = setiap orang.
  • Janàá = orang, penduduk bumi, yang lahir di dunia ini.


 Anejdek' mnso jv¢yo nWnÜÖeva AaPnuvn( pUvRmzRt( -
t×avto_NyanTyeit itîÑaiSmn{po matirëa d/ait --4--

Transliterasi ke Latin:
4. anejad ekaý manaso javìyo nainad devà àpnuvan pùrvam arûat
tad dhàvato ’nyàn atyeti tiûþhat tasminn apo màtariúvà dadhàti

Artinya:
Yang Esa, walaupun tetap ditempat, tidak bergerak, dengan kecepatan melebihi pikiran, mendahului kecepatan gerak para Dewa-Dewa, demikianlah Matariúwa, walaupun tinggal ditempatnya, melebihi kecepatan dari semuanya.

Penjelasan.
  • Anejad =  tidak bergerak, diam menetap di tempat. Ini gambaran Paràtman (Brahman) dalam keadaan transcendental.
  • Ekam Satu,  Yang Satu (Esa), yaitu penjelasan yang menunjuk bahwa Tuhan itu bersifat Esa.
  • Anejad ekam Yang Esa tetap tidak bergerak (menetap di alamnya). Pelukisan ini menunjukkan pengertian tentang hakekat Tuhan Yang Esa dalam keadaan yang sebenarnya, Esa dan ada tetap ditempatnya semula, dari mana seluruh alam semesta ini diatur dan dikendalikannya.
  • Manaso javìyo melebihi kecepatan pikiran. Ini biasanya dilukiskan untuk membandingkan kece-patan gerak sesuatu benda di mana berdasar pengalaman sehari-hari pikiran itu mempunyai kecepatan luar biasa, karena dalam waktu bersamaan dapat mencapai tempat dari pemikirannya tempat-tempat yang dituju. Walaupun demikian, kecepatan gerak Yang Esa itu, dinyatakan melebihi kecepatan pikiran dan ini berarti penunjukan mengenai sifat-sifat luar biasa dari pada Tuhan Yang Esa.
  • Nainad devà àpnuvan dewa-dewa tidak dapat mendekatinya. Artinya ialah bahwa Dewa-dewa tidak dapat juga melebihinya.
  • Apnuvan mendekatinya. Juga dapat diartikan menyamainya, apa lagi untuk melam-pauinya. Dengan demikian Yang Esa itulah yang selalu mendahului atau lebih dahulu (purvan).
  • Tiûþhat =  dari tempat kediamannya, tempat duduknya.
  • Tad dhavato ’nyàn atyeti = melebihi yang lain yang telah lari.
  • Tasmin dari tempatnya. Jadi dari tempatnya, di mana ia berada, ia mendahului sampai ke tempat tujuan, walaupun yang lain telah lari sedangkan ia sendiri masih duduk ditempatnya semula, sehingga dalam keadaan yang sama ia ada di dua tempat.
      Màtariúva, gelar atau sebutan yang diberikan kepada Yang Esa karena sifatnya sebagai penguasa atas udara dan hujan. Jadi karena sifat ini mencakup baru sebagian aspeknya saja, dilukiskannya ia sebagai Dewa. Kedudukan Dewa ini dianggap penting, karena dianggap sebagai penunjang mahluk hidup dan semua ciptaannya dengan memberi gaya hidup dan kekuatan.
  • Dadhàti Ia mengerjakan; ia melaksanakan kerjanya.
  • Anyàn =  Yang lain, artinya selain pikiran, yaitu semua jenis indriya manusia.
  • Mano (manaá) pikiran atau senserium commune. Menurut Saòkàra, mana ini diartikan sebagai kekuatan imajinasi dimana pikiran selalu bergerak dari bentuk alam yang satu ke alam yang lain sebagai Brahma.
  • Apa (àpaá) air. Juga diartikan sebagai salah satu dari pañca maha bhùta (gross element), yaitu Påthivi, Àpaá,  Teja, Bayu (Vàyu), dan Àkàúa yang artinya berturut-turut adalah tanah, air, api, angin dan eter.


tdejit tNnWjit tÖure tÜiNtkw -
tdNtrSy svRSyaSy baöt" --5-- 

Transliterasi ke Latin:
5. tad ejati tan naijati tad dùre tad vantike
tad antarasya sarvasya tad u sarvasyàsya bàhyatah.

ARTINYA:
Ia berjalan, Ia juga tidak berjalan, Ia jauh, Ia tidak jauh, Ia ada dalam segala-galanya, Ia ada di luar dari segala-galanya.

PENJELASAN:
  • Tad (Tat) = itu (ia), pengganti nama untuk yang jauh. Istilah ini dipergunakan di dalam Veda untuk menunjukkan sebagai pengganti nama Tuhan dalam segala kemungkinan jenis penggunaannya.
  • Ejati  = Ia berjalan (bergerak).
  • Naijati (na ejati) = Ia tidak berjalan (bergerak). Kata-kata ulangan di atas menunjukkan arti yang bertujuan untuk memperkuat arti kata itu.
  • Dure = jauh, yaitu jauh dari tempat pemikirnya.
  • Vantika (u + antika) = juga dekat. Keadaan Tuhan yang dekat kepada pemikirnya.
  • Sarvasya = dari serba yang ada ini. 
  • Antar = di dalam diri (seorang), karena di dalam menghidupi mahluk hidup, ciptaannya, sebagai Àtman, Ia ada dalam diri mahluk itu.
  • Bàhyatah = di luar (dari semua alam semesta, ciptaannya). Kedudukan ini karena Ia adalah sebagai penciptanya, sebagai subyek. Pemikiran seperti ini dapat pula kita jumpai di dalam kita Bhagavadgìtà XIII. 15 yang terjemahannya adalah sbb. : Ada di luar dan di dalam semua insani, tidak bergerak tetapi bergerak senantiasa, terlalu amat halus untuk diketahui, jauh nian, namun juga dekat sekali.
Penggambaran seperti itu dimaksudkan untuk melukiskan sifat Tuhan yang tidak dapat dikatakan dengan pasti, dan dilukiskan dalam bentuk serba ganda, relatip pada pemikirnya Dr. R.E. Hume melukiskannya sebagai sifat ”Paradoxical world-being”, dari pada wujud Tuhan yang transcendental (para senserium commune).


yStu svaRi, .UtaNyaTmNyevanupXyit -
svR.Utezu caTman' tto n ivjuguPste --6-- 

Transliterasi ke Latin:
6. yas tu sarvàói bhùtàny-àtmany evànupaúyati
sarva-bhùteûu càtmànaý tato na vijugupsate.

Artinya:
Tetapi, Ia hanya melihat Àtman ada pada serba mahluk dan kemudian melihat sarwa insan ada pada Àtman, tidak akan membenci yang lain.

Penjelasan.
  • Yah = mereka, orang yang itu.
  • Tu = tetapi, sesungguhnya.
  • Sarvani bhùtani = semua benda-benda, semua mahluk hidup. Serba insan.
  • Bhùta kadang-kadang diartikan benda-benda dan kadang-kadang berarti mahluk hidup. Dalam hal berarti benda diterjemahkan dengan istilah substan seperti dalam kata pañca mahà bhùta yaitu lima macam elemen dasar seperti tanah, air, api, udara dan eter yang kelima-limanya merupakan komponen badan wadag benda-benda duniawi.
  • Anupaúyati asal dari kata paúya (melihat) berarti ia yang melihat atau ia yang memperhatikan atau ia yang mengetahui.
  • Àtman = Jiwa, Yang Menghidupi. Dengan kata lain yang dimaksud adalah Tuhan, sebagai unsur penting yang memberi hidup. Dalam terjemahan sehari-hari àtman biasanya diartikan roh atau semangat, walaupun artinya kurang tepat. Untuk membedakan Àtman sebagai jiwa dan bersifat jamak (Àtmani) dari Àtman dalam arti Jiwa Agung atau Brahman atau Roh Kudus, dipergunakan pula istilah Paramàtman (Paràtman) yaitu Brahman. Dengan demikian Àtman mempunyai dua pengertian:
  1. Àtman dalam arti Paràtman yang juga disebut Brahman adalah Àtman dalam bentuk dan kedudukan serta sifat yang transcendental.
  2. Àtman dalam arti jìvàtman adalah jiwa atau semangat atau Àtman yang ada pada setiap mahluk hidup sehingga mahluk-mahluk ini berjiwa dan hidup. Benda hidup disebut bhùta dan yang menghidupinya disebut Àtman. Àtman dalam hal ini yang disebut dalam kedudukannya yang immanen, yang di dalam agama dianggap tidak pernah mati tetapi mempunyai kemampuan terus hidup dan berimigrasi dari jasad atau kembali ke alam bentuknya semula yang transcendental, bersatu dengan brahman atau Paràtman dalam bentuk mencapai mokûa.
     Jadi Àtman yang satu berarti Àtman dalam arti Brahman dan Àtman yang sama adalah sebaliknya, yaitu Àtman dalam arti jìvàtman, yang ada pada serba mahluk hidup (bhùta). Dalam hal seperti inilah kita melihat mahluk yang satu sama dengan mahluk yang lain, yang kemudian kita kenal dalam adagiumnya yang terkenal TAT TVAM ASI. Jadi bila kita melihat dari unsur kesamaan itu tidak ada alasan untuk membenci antara yang satu dengan yang lain.
  • Na vijugupsate = tidak membenci yang lain.
  • Sarva bhùtesu = atas serba insan, atas serba mahluk hidup.
  • Àtmànam = Àtma itu sendiri, yaitu àtman yang sama juga.


 yiSmn( svaRi, .UtaNyaTmWva.UiÜjant" -
t] ko moh" k" xok EkTvmnupXyt" --7--

Transliterasi ke Latin:
7. yasmin sarvàói bhùtàny  àtmaivàbhùd vijànataá
tatra ko mohaá kaá úoka  ekatvam anupaúyataá

Artinya:
Ia yang mengetahui Àtman dalam hal seperti itu, ada dalam semua insan, karenanya tidak akan ragu-ragu serta bimbang, sesungguhnya ialah yang mengetahui.

Penjelasan :
  • Sarvàói bhùtàni àtma eva abhùd = bahwa hanya àtman itu ada pada semua insan, yaitu Àtman yang sama juga terdapat pada setiap pribadi diri mahluk hidup itu.
  • Yasmin = dalam itu, dalam hal seperti itu.
  • Vijànataá = ia yang mengetahui, orang yang mengetahui.
  • Tatra = dari sebab itu, kemudian.
  • Kaá = apa.
  • Mohaá (moha) = ilusi, pengetahuan yang tidak benar atau ragu-ragu.
  • Úoka (h) = bimbang. Seseorang akan ragu dan bimbang bila ia belum yakin benar akan kebenaran pengetahuannya itu. Sebaliknya bila ia yakin bahwa apa yang dipikirkan itu benar dan bukan karena fatamorgana, tidak ada alasan untuk ragu dan bimbang serta takut-takut untuk meyakini kebenaran seperti itu.
  • Ekatvam = satulah hakekatnya, yaitu sama juga antara yang satu dengan yang lain.
  • Anupaúyataá = orang yang melihat dari pengetahuan, atau yang tahu berdasarkan kitab suci, atau dari ceritera (penjelasan) para ahli, para åûi yang percaya. Jadi pengetahuan tak langsung.



s pyRgaC^u¹mkaymv[,mðaivr' xu×mpapiv×m( -
kivmRn¢z¢ pir.U" SvyM.UyaRqaQyto_qaRn( Vyd/aC^aët¢>y" sma>y" --8-- 

Transliterasi ke Latin:
8. sa paryagàc chukram akàyam avraóam
asnàviraý úuddham apàpa-viddham
kavir manìûì paribhùá svayambhùr
yàthàtathyato ’rthàn vyadadhàc chàúvatìbhyaá samàbhyaá

Artinya:
Hendaknya diketahui bahwa Ia Maha Kuasa, Tak bertubuh. Tak teraba, tak berurat nadi, suci, tak terkena oleh penderitaan, Maha Tabu, ahli pikir, Maha Besar, ada tanpa diadakan, pemberi rakhmat atas segala keinginan sejak jaman dahulu kala.

Penjelasan :
  • Saá = Ia (kata pengganti nama maskulin). Kata pengganti nama ini menunjuk kepada adanya Tuhan yang di dalam kalimat di atas didudukkan sebagai subyek kalimat.
  • Paryagac (paryagat) = diketahui, mengenal. Perobahan huruf ”t” ke ”c” dalam kata di atas karena diikuti oleh huruf ”c” atau ”ch” (chukram). Kata paryagat, maksudnya agar benar-benar diketahui bahwa ”sah......   yaitu
  1. Saá chukram (sukram) = Ia Maha Kuasa.
  2. Saá akàyam = Ia tak bertubuh (tidak mempunyai bentuk, tidak berwujud). Kaya = badan, tubuh.
  3. Sah avåóam = Ia tidak dapat didekat (tidak dapat diraba, tidak dapat dijangkau).
  4. Saá asnàviram = Ia tidak berurat nadi (tidak punya pembuluh darah).
  5. Saá úuddham = Ia suci (Ia Maha Suci), ia tak ada celanya.
  6. Sah apàpa viddham = Ia tak ada cacat, ia tidak ada papa (dosa).
  7. Saá kaviá = Ia Maha Tahu, (Ia seniman).
  8. Saá manìsì = Ia pemikir (ahli pikir pilosuf).
  9. Saá paribhùh = Ia maha besar dari segala yang ada, ia maha ada, Bhùh atau Bhàva berarti ada. Pari = selalu, di mana-mana.
  10. Saá svàyambhùá = Ia ada sendiri, yaitu ia ada tanpa diadakan. Jadi adanya tidak karena ada yang menciptakan, melainkan sendirilah yang mengadakan. Dari mantra di atas dapat dikatakan bahwa kesepuluh kata sifat itu dimaksudkan untuk memberi keterangan tentang sifat-sifat dari padanya (saá), yaitu sifat Tuhan. Sifatnya yang berarti itulah yang selalu dipikirkan dan selalu menjadi tujuan, yaitu para pemikirnya.
  • Yàthàtathyataá  = yang itulah menjadi tujuan, yaitu yang selalu manusia inginkan (cari). Kenapa ia selalu dicari (dipikirkan), yalah karena Ia selalu dikatakan Maha Pemurah dan selalu memberi rakhmat. 
  •  Saá vyadadhàt = Ia memberi rakhmat (pemberian). Apa yang diberikan?  
  • Arthan = dari segala apa yang diinginkan (diharapkan) oleh yang mengharapkan (manusia) daripadanya.
  • Sàsvatìbhya (chasvatìbhya) samàbhyah = sejak jaman dahulu; sejak masa yang tidak dapat diingat-ingat lagi.
Pengaturan sifat-sifat Tuhan seperti di atas, diuraikan pula di dalam kitab Brahma Saýhità, dan umumnya dilukiskan dengan pengertian SAT CIT ÀNANDA, yang Artinya: Ia maha ada, benar-benar ada (Sat atau Satya), Ia adalah bersifat pikir (Cit atau Citta = pikiran), Ia adalah bersifat Maha bahagia (ànanda = yang selalu berbahagia). Ia juga disebut vigraha, yaitu dalam bentuk yang dapat dipuja. Bentuk atau rupa, dapat bersifat abstrak, riil (nyata), atau simbol (nyasa). Istilah Arca vigraha, yaitu dalam bentuk arca (wujud tertentu). Mantra vigraha = dalam bentuk mantra, misalnya bentuk SAPTA ONGKARA, PAÑCA AKÛARA, TRI AKÛARA, dan sebagainya banyak bentuk-bentuk yang dilukiskan dalam bentuk mantra.
Dalam bentuk mantra di atas, Tuhan dinyatakan sebagai apapa viddham = tidak ada celanya; tidak dilekat oleh dosa-dosa. Ia selalu dilukiskan dalam arti kata úuddham = suci, pari purna, sempurna. Biasanya diterjemahkan dalam istilah ”Maha suci” (Úrì).



AN/' tm" p[ivxiNt ye_ivÛamupaste -
tto .Uy —v te tmo y £ ivÛaya' rta" -- 

Transliterasi ke Latin:
9. andhaý tamaá praviúanti  ye 'vidyàm upàsate,
tato bhùya iva te tamo  ya u vidyàyàý ratàá.

Artinya:
Ia yang memujanya karena avidyà masuk kedalam kegelapan dan kebodohan, demikian pula selanjutnya yang karena vidyanya akan lebih masuk ke dalam kegelapan.

Penjelasan :
  • Vidyà = pengetahuan.
  • Avidyà = tanpa pengetahuan; bodoh.
  • Upàsate = memuja, pemujaan, penghormatan.
  • Rata = menjalankan; giat pada. Dari mantra di atas, pemujaan atau yang selalu giat memuja dalam ketidaktahuannya (avidyà) maka ia memuja dalam keadaan kegelapan dan kebodohan karena benar-benar ia tidak tahu dan tidak mengerti. Sebaliknya, ia yang giat selalu memuja dalam keadaan vidyà (berpengetahuan), iapun akan masuk kedalam kegelapan artinya tetap juga akan makin bertambah gelap karena tidak mungkin ia mengetahuinya. Pemujaan dalam keadaan tahu ini juga disebut ”jñàna yoga” yaitu, menghubungkan pikiran melalui keilmuan.
  • Oleh karena itu, maka menurut mantra 9 di atas, tidak ada bedanya antara bhakti yoga, karma yoga dan jñàna yoga dalam memuja Tuhan itu.
  • Bhùyaá = dianggap.
  • Iva = sebagaimana juga, sama halnya, seperti.
  • = juga.
  • Te = mereka.
  • Tato (tataá) = kemudian, akhirnya.
  • Di dalam mantra di atas, ayat satu terjemahan menurut arti katanya masing-masing adalah sebagai berikut. Mereka yang memuja dalam Avidyà masuk kegelapan yang amat sangat (andha tamah) andha = buta (gelap).
  • Tamah = bodoh, tidak tahu. Jadi demikian juga dalam ayat kedua, seperti halnya itu (laksana seperti itu) kemudian mereka yang selalu senang (aktip) dalam vidyà. Dengan perbandingan itu, ayat I dan 2 pada hakekatnya tidak sama artinya.
  • Màtrà di atas ada persamaannya dengan màtrà yang terdapat di dalam kitab Båhadàraóyaka Upaniûad 4.4.10.



ANydevahuivRÛya AnydhurivÛya -
—it xuè[um/¢ra,a' ye nStiÜcci=re --10-- 

Transliterasi ke Latin:
10. anyad evàhur vidyayà  anyad àhur avidyayà,
iti úuúruma dhìràóàý  ye nas tad vicacakûire.

Artinya:
Sesungguhnya dikatakan lainlah akibatnya untuk vidyà, lain pula dikatakan akibatnya untuk avidyà, demikian didengar dari yang Maha Mengetahui, dijelaskan kepada kami.

Penjelasan :
  • Anyad = lain (anya).
  • Eva = sesungguhnya, pastinya.
  • Àhuá = dikatakan.
  • Anyad eva àhur vidyayà = Untuk vidyà sesungguhnya lain dinyatakan (akibatnya). Menurut pengertian ini, maksudnya, bila seseorang selalu bekerja dan berdoa didasarkan atas pengertian atau pengetahuan, akibatnya lain atau tidak sama dengan yang avidyà (tanpa pengetahuan). Eva àhur (h) juga diartikan sesungguhnya demikian dikatakan.
  • Iti = ini.
  • Úuúruma = telah (kami) dengar. Jadi Iti susruma artinya ”Inilah yang kami dengar. Ini menunjuk tentang ajaran tersebut di atas.
  • Dhiranam = dari orang yang bijaksana (dhìra). Dhìra, artinya yang sesungguhnya ialah tidak tergoyahkan. Dalam hal ini dimaksudkan adalah tetap pendiriannya. Yang mempunyai pendirian yang tetap adalah mereka yang Maha Tahu. Karena itu pengertian Dhìra dapat mengandung dua pengertian, yaitu dalam arti transcendetal yaitu menunjuk kepada Tuhan yang dianggap tak tergoyahkan, dan dalam arti duniawi adalah manusia bijaksana sebagai orang yang tergolong dhìra.
  • Kata ”kami” dalam ayat 2 adalah pengganti nama para Bràhmaóa sebagai Åûi yang menerima ajaran itu.
  • Tad vicacakûire = itu yang diajarkan, itu yang disampaikan.
  • Nas (nah) = kepada kami.
Ayat kedua, bentuk isinya dapat pula kita jumpai persamaannya dengan yang dituturkkan dalam kitab Kena Upaniûad, dari Khàóîa pertama, mantra 3.



ivÛa' caivÛa' c yStÜedo.y' sh -
AivÛy m*Tyu' t¢TvaR ivÛyam*tmXnute --11-- 

Transliterasi ke Latin:
11. vidyàm càvidyàý ca yas tad vedobhayaý saha,
avidyayà måtyuý tìrtvà vidyayàmåtam aúnute.

Artinya:
Hanya Ia-lah yang mengetahui vidyà dan avidyà bersamaan keduanya, dengan avidyà melewati kematian, dengan vidyà menikmati kekekalan.

Penjelasan :
  • Yas tad (yah tad) = Ia itu.
  • Yah = Ia;
  • Tad = itu. Kata Ia itu, maksudnya sebagai pengganti nama TUHAN sarwa sekalian alam.
  • Vidyà  = ilmu pengetahuan, pengetahuan tentang kebenaran.
  • Avidyà = tidak mempunyai vidyà, bodoh, Kedua kata itu, vidyà dan avidyà merupakan kata yang berlawanan artinya, dan di dalam katimat di atas dipergunakan dalam arti absolut (mutlak).
  • Vedobhayam (Veda + ubhayam) = mengetahui keduanya.  
  • Saha = simultan, bersamaan. Vidyà avidyà diketahui secara simultan, memiliki ilmu dan tidak berilmu secara simultan merupakan suatu hal yang kontradiksi. Jadi hal yang tidak mungkin dalam arti kata biasa. Dalam hal ini kita lihat dimungkinkan hanya terbatas untuk menjadi sifat dari pada Tuhan. Terjemahan ayat pertama menurut Swami A.C. Bhaktiwedanta adalah : ”Only one who can learn the process of nescience and that of transcendental knowledge side by side........”
Lazimnya bila orang telah tergolong memiliki vidyà, ia tidak lagi avidyà, dan yang masih tergolong avidyà belum lagi vidyà. Kedua kata itu mempunyai akibat (pahala) sendiri tersendiri, dimana dengan avidyà berarti penderitaan, yang di dalam ayat di atas disamakan dengan måta = kematian, sedangkan dengan vidyà akan mencapai kesempurnaan atau disebut mencapai alam kekekalan (amåta = tidak mati).
Ayat 2 dari mantra 11 hanya mengulangi makna dari ayat 1 dan merupakan penjelasan akibat dari avidyà dan vidyà yang masing-masing dari pada sifat itu dapat dimiliki oleh insan (naradhama) dimana bagi manusiawi diharapkan agar berusaha menjadi (mencapai) tingkat vidyà.



AN/' tm" p[ivxiNt ye_sM.Uitmupaste -
tto .Uy —v te tmo y £ sM.UTya' rta" --12-- 

Transliterasi ke Latin:
12. andhaý tamaá praviúanti
ye’sambhùtim upàsate
tato bhùya iva te tamo
ya u sambhùtyàý ratàá.

Artinya:
Mereka yang memuja Asambhùti akan masuk kedalam kebodohan dan kegelapan, demikian pula mereka yang memuja Sambhùti masuk kedalam kegelapan.

Penjelasan :
Menurut mantra 12 di atas, ada dua macam kemungkinan, dibedakan antara mereka yang memuja Sambhùti dan yang memuja Asambhùti. Sambhùti dan Asambhùti merupakan dua kata yang berlawanan arti. Asambhùti = mahluk Tuhan, Dewa-dewa dan lain yang adanya tergantung dari yang lain (misalnya tergantung pada Tuhan) Dewa-dewa diciptakan oleh Tuhan dan demikian pula berbagai jenis tingkat Gandharva, Yakûa, Raksasa, berbagai jenis roh, dan lain-lainnya, kesemuanya merupakan ciptaan Tuhan. Semua yang adanya karena diadakan atau diciptakan oleh yang lain berarti adanya tergantung pada yang telah ada, yaitu Tuhan. Semua jenis inilah yang disebut ASAMBHÙTI.
  • Pravisanti = mereka masuk.
  • Andham = buta.
  • Tamah = gelap.
  • Andham tamah = kegelapan yang luar biasa.
  • Yeh (yah) = mereka.
  • Upàsate = memuja.
  • Tato (tataá) = kemudian, demikian pula.
  • Bhùyaá = lagi, juga.
  • Tato bhùyaá = lagi pula lainnya; demikian pula yang lainnya.
  • Iva = Laksana; sama seperti itu juga.
  • Te = mereka.
  • U   = juga.
  • Sambhùti = yang absolut; Tuhan (Brahma); Para Brahman. Dalam kalimat kedua, merupakan lawan dari kalimat pertama, yang artinya dijelaskan sama seperti kalimat pertama, mereka yang memuja. Yang Absolut juga masuk ke dalam keadaan yang gelap (tamah). Sifat keadaan seperti itu karena sesungguhnya pengetahuan kita tentang yang absolut itupun bersifat terbatas sehingga menganggap pemujaan yang Absolut itu telah benar secara mutlak. Hal ini dapat kita teliti dalam konsep theologi Hindu dimana kalau kita sampai pada tingkat pengetahuan yang absolut kita sampai pada tingkat SUNYA atau VOID dari semua sifat, suatu hal yang tidak mungkin dalam arti alamiah  
  • Tamah = gelap; bingung.  
  • Ratah = melakukan; menger-jakan.



ANydevahu" sM.vadNydahursM.vat( -
—it xuè[um /¢ra,a' ye nStiÜcci=re --13-- 

Transliterasi ke Latin:
13. anyad-evàhuá sambhavàd
anyad àhur asambhavàt,
iti úuúruma dhìràóàý
ye nas tad vicacakûire.

Artinya:
Sesungguhnya telah dinyatakan, pahala dari pada pemujaan Yang Maha Ada lain dari pada pemujaan yang tidak Maha Kuasa. Semuanya telah didengar dari yang Maha Tenang yang telah menjelaskannya dengan sempurna.

Penjelasan :
  • Anyad = berbeda dari, lain dari (anya = lain)
  • Eva = sesungguhnya, sebenarnya.
  • Àhuá (r) = dikatakan, dinyatakan. Bait pertama akan berarti ”sesungguhnya lain dikatakan dari sambhava, lain dikatakan dari asam-bhava”.  Adapun ”yang lain” itu adalah akibat atau pahala. Sambhava = Tuhan Yang Maha Ada. Di dalam mantra 13 di atas kata Sambhava berarti Yang Maha Ada atau Tuhan, yaitu yang adanya tidak ada yang mengadakan. Karena itu Ia Ada sendiri Bhava (bhu) = ada. ”Sambhava” = serba ada, Maha Ada. Lawan kata sambhava adalah asambhava yaitu adanya karena ada yang mengadakan. Jadi bukan Tuhan. Dewa-dewa adalah ciptaan dari itu yang Maha Ada karena itu tergolong jenis Asambhava.
  • Iti = ini.
  • Úuúruma = yang telah (saya) dengar.
  • Dhìràóàm = dari sumber Yang Maha Tenang, yang tak tergoyangkan, Yang sempurna, yang mempunyai keteguhan. Kata dhìra (dhri atau dha) = sempurna sendiri. Di dalam ayat-ayat di atas kata dhìra dapat mengadung dua pengertian yaitu (1). Tuhan (2). Para Åûi yang telah berketetapan dihatinya sehingga tidak lagi terpengaruh oleh hal-hal duniawi.
  • Ye = mereka, semua.
  • Nah = kami (kepada kami).
  • Vicacakûire = dijelaskan dengan sempurna, dijelaskan sejelas-jelasnya A.C. Bhaktiwedanta menghubungkan penjelasan ayat ini dengan ajaran yang terdapat di dalam Bhagavadgìtà di mana pemuja Pitara (Pitri) akan sampai kepada Pitra, pemujaan Dewa-dewa akan sampai ke alam Dewa-dewa sedangkan pemujaan Yang Maha Kuasa akan sampai kepada Yang Maha Kuasa. Ajaran ini merupakan bagian dari doktrin ”yoga” atau Bhakti Yoga”.



sM.Uit' c ivnax' c yStÜedo.y' sh -
ivnaxen m*Tyu' t¢TvaR sM.UTyam*tmXnute --14-- 

Transliterasi ke Latin:
14. sambhùtiý ca vinàúaý ca
yas tad vedobhayaý saha
vinàúena måtyuý tìrtvà
sambhùtyàmåtam aúnute.

Artinya:
Seseorang hendaknya mengenal keduanya baik-baik, halnya Yang absolut dan Yang dapat musnah, dengan Yang tidak kekal artinya kematian dan dengan mengatasinya akan menikmati kekekalan Yang absolute.

Penjelasan :
  • Sambhùtim = Hakekat yang absolute Tuhan. Vinàúam = benda-benda temporal, benda-benda yang dapat musnah. Dalam hal ini ”Vinàúanam” dipergunakan sebagai pengganti nama untuk menyebutkan segala jenis mahluk ciptaan Tuhan. Jadi sama sebagai asambhuti.
  • Yas (h) = itu, mereka.
  • Tad = eda + ubhayam) ketahui keduanya Saha = bersama, simultan. Berdasarkan ayat 1, diharapkan agar kita mengenal baik-baik hakekat kedua sifat yang berbeda secara simultan. Sambhuti dan Vinàúa.
  • Vinàúeni = dengan vinàúa(mahluk yang dapat musnah), Måtyum = mati. Jadi dari ayat kedua ini dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan mahluk yang dapat musnah adalah yang dapat mati.
  • Tìrtva = dengan mengatasi (sifat-sifat itu).
  • Sambhùti amåta = dengan sambhùti kekal. Artinya Tuhan yang absolut itu bersifat kekal (tidak mati). Sambhùtya di tempat sambhùti (yang absolut).
  • Asnute = memperoleh, menikmati.
Jadi di dalam ayat-ayat ini dijelaskan bahwa kalau dialam Brahman, orang akan menikmati kekekalan. Alam ini dikenal dengan nama alam spiritual oleh para jñàni.



ihr<myen pa]e, sTySyaipiht' mu%m( -
tÑv' pUzn{pav*,u sTy/maRy d*ì ye --15-- 

Transliterasi ke Latin:
15. hiraómayena pàtreóa
satyasyà pihitaý mukham
tat tvaý pùûann apàvåóu
satya - dharmàya dåûþa ye.

Artinya:
O, Maha Pelindung atas nama semua mahluk hidup, wajahmu yang sesungguhnya tertutup kecemerlangan sinarmu. Perlihatkanlah dirimu kepada hambamu, hilangkan kabut yang menutupimu itu.

Penjelasan :
  • Hiraómayena = dengan sinar yang cemerlang.
  • Pàtrena = tutup yang menyilaukan, tutup yang cemerlang,
  • Satyasya  = hal yang sebenarnya.
  • Apihitam = tertutup.
  • Mukham = wajah.
Dari ayat 1 dapat diungkapkan bahwa ”wajah” yang sesungguhnya kita tidak ketahui bagaimana sebenarnya bentuk Tuhan itu. Yang kita lihat adalah cahaya yang cemerlang yang menyilaukan pandangan kita untuk melihat kebenaran itu. Oleh karena itu yang tampak adalah bentuk sinar yang cemerlang dan bukan yang sebenarnya.
  • Tat tvam Pùûan = Engkau itu adalah Pùûan (Pelindung semua insan).
  • Apavåóu = HARAP LENYAPKAN, HILANGKAN (yang memimpin kebenaran). Artinya perlihat-kan kebenaran itu (Satya kebenaran absolute Tuhan).
  • Dharmaya = kepada hambamu, untuk, pengikutmu. Ditaye = perlihatkan, tunjukan. Sifat Tuhan sebagai sinar (Jyoti) banyak kita jumpai dalam berbagai ayat. Sifat sinar disebut PUSAT atau Brahma Jyoti. Untuk menge-tahui hakekat yang absolut harus melihat hakekat dibalik sinar cemerlang itu. Sifat cemerlang ini yang digambarkan sebagai jutaan sinar yang gemerlapan.



pUzn{ekzeR ym sUyR p[ajapTy VyUh rSm¢n( smUh tejo -
yÑae åp' kLya,tm' tÑae pXyaim yo_savsO puäz" so_hmiSm --16-- 

Transliterasi ke Latin:
16. pùûann ekarûe yama sùrya pràjà patya
vyùha raúmìn samùha tejo,
yatte rùpaý kalyàóatamaý tatte paúyàmi
yo’sàvasau puruûaá so ’hamasmi.

Artinya:
Yang Penguasa atas alam semesta, tujuan dari pengikutmu. O Maha Pelindung (Pùûan), engkau adalah tujuan yang dituju (Sùrya), engkau adalah pencipta mahluk hidup (Prajàpati); lenyapkanlah sinarmu yang transenden agar hamba dapat melihat wujudmu yang maha suci. Engkau adalah puruûa, sebagai Matahari, ada sebagai hamba.

Penjelasan :
  • Ekarse (Eka Åûi) = seorang pemikir (Pilosuf).
  • Yama = penguasa atas yang hidup, yang menen-tukan hidup dan mati.
  • Sùrya = matahari, tujuan dari pada Sùri (pengikut yang setia).
  • Prajàpati = pengusaha atas mahluk hidup (ciptaan), yang menjadikan semua mahluk di dunia.
  • Vyuha = atur, kendalikan, antar, kendaraan
  • Raúmin = sinar, kembali
  • Samùha = lenyapkan, hilangkan lipatkan.
  • Teja = sinar.
Ayat 1 mantra 16 menjelaskan bahwa Pùûan tidak lain dari pada Eka Åûi, Yama, Sùrya dan Prajàpati yang kesemuanya gelar lain dari pada Pùûan. Dalam pengertian sehari nama-nama Dewa diidentikkan dengan gelar Tuhan secara relatif sehingga gelar-gelar itu bisa banyak walaupun yang digelari itu satu.
  • Yatte (yat + te) rùpam = bentukmu itu
  • Te = kata pengganti kepunyaan orang kedua, kamu punya.
  • Yat  = itu (tat). Kalyana - taman = suci, mulia.
  • yo savasau (yah + asau + asau) = ia itu matahari.
  • Puruûa = kemanusiaan, Nàràyaóa, wujud utama.
Dalam pengertian ini dimaksudkan untuk mempermudah menghayalkan hakekatnya. Ia yang menjadi sumber dari segala ciptaan ini diwujudkan dalam bentuk ”PURUÛA” yang paling sempurna, seperti diri manusia sendiri (so ham asmi = sah + aham asmi) yang Artinya: Ia adalah Aku expresi lain dari Tat Tvam Asi yang artinya Engkau adalah itu.



vayurinlm*tmqed' .SmaNt' xr¢rm( -
¥ ¹to Smr ²t' Smr ¹to Smr ²t' Smr --17-- 

Transliterasi ke Latin:
17. vàyur anilam amåtam
athedaý bhasmàntaý úarìram,
oý krato smara kåtaý smara
kratosmara kåtaý smara.

Artinya:
Biar badan ini musnah menjadi abu, nafas menjadi satu dengan udara, O Tuhan Sarwa Sekalian alam (OÝ), Yang menikmati yajña, ingatlah semua kurban itu yang hak atas karya itu, ingatlah yang telah (hamba) kerjakan.

PENJELASAN:
  • Vàyuá (r) = nafas, udara, angin.
  • Anilam = tempat Udara, udara.
Maksudnya dalam bait 1 mantra 1, yaitu, sampai mati, dimana nafas yang menjadi ciri hidup lenyap dan menjadi satu dengan udara luas yang abadi dan badan yang tidak kekal musnah menjadi abu (basma) waktu dibakar atau ditanam.
  • Vàyu = pràóa.
  • Athedam (atha + idam) = kemudian akhirnya ini. Kata ini sekedar sebagai penunjuk benda-benda dekat.
  • (A + U + M) = Triakûara dipergunakan sebagai pengganti nama untuk menamakan hakekat yang absolut sebagai asal dari semua ciptaan.
  • Krato = yang menikmati karma (yajña), gelar lain untuk Tuhan.
  • Smara (Småna) = mengingat, (Kata harapan). Kalau kita teliti Buku XI kitab Yajur Veda Putih, mantra 17 ini ditulis dalam urut 15, Bait 2. Mantra di atas diterjemahkan oleh R.H. Griffith. sbb : Oý !  Mind, remember thou; remember thou my sphere, remember thou my deeds.



Ag{e ny supqaraye ASmn( ivëain den vyunin ivÜan( -
yuyo?ySmJjuhura,meno .Uiyîa' te nm £iµ' iv/em --18-- 

Transliterasi ke Latin:
18. agne naya supathà ràye asmàn
viúvàni dena vayunàni vidvàn,
yuyodhy asmaj juhuràóam eno
bhùyiûþhàý te nama uktiý vidhema.

Artinya:
O Tuhan, kuat laksana api, maha kuasa, tuntunlah kami semua, segala yang hidup kejalan yang baik, segala tingkah laku menuju kepadamu, yang bijaksana; jauhkan dari jalan yang tercela yang jatuh dari padamu baik penghormatan maupun kata-kata yang hamba lakukan.

Penjelasan :
Mantra 18 merupakan doa dan harapan yang di dalam kitab Yajur Veda Putih merupakan mantra No. 16.
  • Agne = O Agni, gelar Tuhan. Sifat kekuatan Tuhan laksana api.
  • Naya = bimbing, tuntun, tunjukkan.
  • Supatha = jalan yang baik, jalan yang diridhoi.
  • Raye = Yang Maha Kuasa, Yang Maha Kaya.
  • Vidvan = yang tahu, yang bijaksana.
  • Vayunàni = semua perbuatan,
  • Viúvani = semua yang hidup.
  • Yuyodhi = jauhkanlah, bebaskan diri.
  • Juhuràóam = Yang menghalangi, dari jalan.
  • Bhuyiûþham = yang menyebabkan jatuh dari,
  • Vidhema = yang dilakukan.


Baca juga;

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar