Minggu, 29 April 2012

PENJELASAN BRIHAD’AARANYAKA UPANISAD

PENJELASAN BÅHADÀRAÓYAKA UPANIÛAD

Båhadàraóyaka Upaniûad, termasuk ke dalam Sukla Yajur Weda, dan memiliki 6 bagian yang semuanya kecuali bagian ketiga dan keempat, menguraikan Upàsanà atau pemujaan, yang dihubungkan dengan karma atau kegiatan ritual. Bagian ketiga dan keempat berisi ajaran dari Yàjñavalkya tentang kebenaran yang disampaikan kepada Janaka. 

Keagungan dan kebesaran yang luar biasa dari kecerdasan orang bijak ini secara mengagumkan diperlihatkan dalam Upaniûad ini. Para calon spiritual yang ingin mencapai tujuan pembebasan, bagian dari Båhadàraóyaka ini memberikan tuntunan yang terbaik. Oleh karena itu bagian ini dinyatakan sebagai Yàjñavalkya Kàóða. Upaniûad ini merupakan yang terakhir dari 10 buah Upaniûad yang terkenal dan karena ukurannya yang besar atau luas, ia dinamakan Båhat; dan karena ia merupakan kitab yang terbaik untuk dipelajari di keheningan hutan atau Àraóya, ia merupakan sebuah kitab Àraóyaka; dan ia mengajarkan Brahmajñàna, sehingga ia digolongkan sebagai sebuah Upaniûad.
Para sarjana telah menunjukkan 2 bagian yang pertama dari naskah-naskah ini sebagai Madhu(ra)-kàóða; 2 bagian selanjutnya sebagai Muni-kàóða dan 2 bagian terakhir sebagai Khila-kàóða. Khila artinya tambahan, sehingga penamaan tersebut cocok. Bagian pertama berisi prinsip dasar, bagian kedua menyatakan kebenaran mereka dengan referensi pengalaman; bagian ketiga menunjukkan bagaimana melaksanakan hal yang sama dan dapat menguasainya. Bagian pertama mengajarkan jñàna, yang penting untuk kemajuan spiritual yang dihubungkan dengan jalan karma dan Upaniûad. Hal ini bukan hanya merupakan disiplin intelektual yang kering.
Mereka yang menginginkan untuk mendapatkan jñàna, ada empat peralatan atau media guna pencarian kebijaksanaan tersebut yaitu : pàda, bìja, sankhya dan rekha. Pàda artinya Weda dan Småti yang mencoba untuk menjelaskannya. Bìja, menyatakan keseluruhan tangga nada dari mantra, yang dipelajari langsung dari guru. Sankhya, ada dua macam, yaitu Waidika dan Loukika. Waidika-sankhya, artinya uraian penjumlahan dan banyaknya dari berbagai mantra; sedangkan Loukika-sankhya menunjukkan jumlah dan saling hubungan antara mereka, sejauh mereka dihubungkan dengan dunia luar dan saling hubungan dari kegiatan manusia. Rekha, juga memiliki dua katagori semacam itu, yaitu Waidika-rekha yang menjadi bagian dari kegiatan upàsanà yang dinyatakan dalam Weda dan Loukika-rekha, yang menjadi bagian dari matematika alam semesta.
Madhura-kàóða, menguraikan Brahmatattwa atau prinsip Brahman, dalam pandangan katagori-katagori yang diterima seperti yang diperintahkan oleh kitab suci. Puruûa merupakan pribadi awal, yang merupakan cikal bakal semua kejamakan nàma dan rùpa ini. Kita membayangkan kuda dalam Aúwamedha sebagai Prajàpati sendiri. Dia diarahkan untuk mengenakan ciri-ciri dan atribut Prajàpati pada kuda sehingga ia dapat memperoleh hasil dari ritual itu. Bagian ini juga dikenal sebagai Aúwa-Bràhmaóa. Lagi pula, api yang merupakan sentral penggambaran dalam upacara kurban, juga ditahbiskan sebagai Prajàpati dan ada uraian pengenaan atribut Prajàpati kepada Agni sehingga ia disebut Agni-bràhmaóa.
Jagat ini, dinyatakan sebagai nyata oleh khayalan yang sebenarnya hanyalah suatu kekacauan dari nàma dan rùpa tanpa kepermanenan, padahal hanya àtma sendiri saja yang dimilikinya. Oleh karena itu, ia menyebabkan rasa mual dan ketidakpuasan serta menyebabkan tumbuhnya penyangkalan. Pikiran segera terbebas dari keterikatan terhadap objek kenikmatan indriyani dan bergerak bersama pembawaan alaminya menuju Brahman itu sendiri. Semua suara adalah nàma; wàk atau suara merupakan penyebab kemunculannya. Rùpa atau wujud merupakan hasil dari visi atau penglihatan, yang muncul dari nyata. Demikian juga Karma memiliki badan sebagai sumbernya ; dan badan hanyalah suatu struktur bagi wàk dan peralatan lainnya. Perenungan pada kebenaran semacam itu membantu proses àtma wicara untuk memulai dan maju.
Pràóa atau udara vital, úarìra yang merupakan basisnya, sirah (kepala) yang merupakan tempat kedudukan dari peralatan untuk mencari pengetahuan, kekuatan yang diperoleh dari makanan, semuanya ini dinyatakan dalam Upaniûad ini. Seperti rasa manisnya dari ribuan bunga yang dikumpulkan menjadi madu, jagat ini merupakan suatu rangkaian dari unsur-unsur. Satya, dharma, dan prinsip-prinsip abstrak semacam itu, manusia dan makhluk hidup nyata seperti itu, wiràþ puruûa dan konsepsi semacam itu - semuanya ini juga merupakan akibat dari Brahmatattwa yang  sama, yaitu tattwa abadi yang tanpa perubahan. Realisasi bahwa tattwa tersebut berada pada setiap pribadi, merupakan  Brahma-Jñàna.
Janaka, raja Wideha, menyelenggarakan satu upacara kurban memberikan hadiah yang sangat banyak, dan banyak para Bràhmaóa  yang menghadiri yàga ini berasal dari wilayah Kuru-Pàñcàla. Sang Raja memiliki ribuan sapi yang dihiasi dengan gelang kaki, kalung dan selubung tanduk dari emas; dan  beliau mengumumkan bahwa mereka akan dihadiahi sapi-sapi tersebut, apabila mereka dapat mengajarkannya ajaran tentang Brahman. Banyak para Bràhmaóa, walaupun mereka para sarjana hebat pada bidangnya ragu-ragu untuk  menuntut memperoleh sapi-sapi tersebut, karena takut gagal. Tetapi Yàjñawalkya begitu yakin dan ia minta kepada murid-muridnya untuk menarik sapi-sapi tersebut ke asramanya. Bràhmaóa-bràhmaóa lainnya bangkit amarahnya atas kelancangannya dan mulai mencoba kesarjanaan dan pengalamannya.
Yang pertama maju menantang Yàjñawalkya, adalah pendeta keluarga dari raja Janaka. Jawaban-jawaban yang diberikan sang bijak atas pertanyaan-pertanyaannya, menjelaskan cara pencapaian àtma yang terkurung dalam pràóa, melalui penyatuan Karma Yoga dan Bhakti yoga. Dalam Yajña, suara Åtwijaya adalah Agni, kàla adalah Wàyu, pikiran si pelaksana adalah Candra (bulan), - Yang demikian itu adalah cara yang harus dipahami seseorang untuk membebaskan dirinya dari pembatasan kefanaan. Selanjutnya yang ditegur sang bijak adalah bujyu, dan pertanyaannya adalah : Adakah  kesatuan yang disebut Puruûa itu, yang diperintah oleh indriya-indriya dan yang terlibat dalam perputaran yang dinamakan saýsàra itu? Atau tidak adakah Puruûa semacam itu? Bila ada yang semacam ini, apakah ciri-cirinya ?
Yàjñawalkya menjawabnya demikian: àtma-mu adalah kesatuan yang engkau cari; seperti perumpamaan dengan sebatang kayu yang  tak dapat bekerja dengan sendirinya, tetapi harus digerakkan oleh sesuatu kekuatan luar atau kekuatan dalam, ataupun seperti tangan ini yang dapat bergerak hanya apabila kehendak menggerakkannya, demikian pula badan ini tak dapat berbuat kalau daya supra spiritual tidak memerintahkannya ataupun udara-udara vital tidak berfungsi dengan semestinya. Dia adalah si pengamat dari fungsi penglihatan pada badan; Dia yang mendengar, bukan telinga. Cetana atau supra kesadaranlah yang melihat dan mendengar serta merasakan, yang tiada lain merupakan pencerminan dari àtma terhadap pikiran. Cetana-lah yang melihat maupun si penglihatan; dan yang terjadi adalah bahwa Cetana dipantulkan dalam pikiran dan menggerakkan indriya-indriya serta memahami dunia luar dari lima unsur sehingga ia tampak sebagai cetana-lah yang terikat dengan kegiatan. Pernyataan yang benar adalah bahwa ia tidak memiliki kegiatan.
Cetana itu adalah àtma; yang melampaui pencapaian indriya-indriya; yang mengatasi dan melampaui badan halus maupun badan penyebab. Ia dapat dipahami dengan pengalaman, àtma dapat dicapai dengan ketidakterikatan (tyàga) secara total. Keterikatan akan anak-anak, kekayaan, istri, dan sebagainya kesemuanya itu harus dilepaskan; karena kesemuanya ini berasal dari kàma atau keinginan. Hal ini disebabkan semua kegiatan, baik kegiatan biasa ataupun ritual maupun pemujaan, secara mendasar merupakan produk dari kàma. Keinginan akan hasil, juga ada dalam karma-sàdhanà; hal yang tak dapat dipungkiri sehingga kesemuanya itu bertentangan dengan saònyàsa yang sesungguhnya.
Terang dan gelap tak dapat terjadi bersama-sama pada saat dan tempat yang sama. Demikian pula karma (kegiatan) dan àtmayajña tak dapat terjadi bersama-sama. Sanyàsa adalah sarwakriya-parityaga; sedangkan perolehan makanan merupakan suatu karma dan berlawanan dengan Sanyàsa. Para Bràhmaóa jaman dahulu mengetahui betul akan hal ini dan mereka melepaskan keterikatan, dan melalui jalan niwåtti atau penarikan (indriya), mereka mewujudkan realitas diri. Hanya merekalah yang merupakan seorang Bràhmaóa, yaitu yang telah menghindarkan dirinya dari segala hal yang berhubungan dengan akhir yang bukan àtman. Semua kepercayaan lainnya merupakan hal yang sekunder.
Dalam Upaniûad ini diuraikan tentang sarwantaryamitwa dari àtma. Seluruh bagian bumi ini dapat didiami melalui persekutuannya dengan air; atau ia akan jatuh berkeping-keping laksana segumpal tepung. Gàrgì bertanya kepada Yàjña-walkya mengenai dasar dari bumi. Pertanyaan dan jawaban yang diberikan menyatakan kepada kita bahwa tanah, air, àkàúa, sùrya, candra, nakûatra, dewa, Indra, Prajàpati, Brahmaloka, kesemuanya ini satu sama lain saling terjalin dari Paramàtma-tattwa, yang merupakan tenunan kainnya Penciptaan. Kebenaran yang demikian itu melampaui imajinasi manusia. Mereka harus direguk dari úàstra-úàstra dengan kecerdasan yang dimurnikan.
Yàjñawalkya menyalahkan argumentasi dari Gàrgì, karena pertanyaannya hendaknya jangan dipecahkan hanya dengan kecakapan kecerdasan saja. Ia harus dipecahkan hanya dengan intuisi, yang diperoleh dengan bimbingan seorang Guru. Bumi diresapi dan dilindungi oleh Wàyu, atau udara. Yang Universal dipribadikan sesuai dengan kesan-kesan dari pengalaman pada kehidupan sebelumnya yang dihubungkan dengan lima karmendriya, lima Jñànendriya, lima pràóa, manas dan buddhi, yang merupakan 17 peralatan. Badan yang konkret merupakan sebuah wikara atau mutasi dari bumi yang diresapi oleh wàyu atau udara. Terdapat 49 buah “bagian-bagian kecil bumi” atau aòga, yang dapat di identifikasikan dalam badan, dan seperti seutas tali yang merangkaikan butir-butir mutiara bersama-sama sebagai satu keseluruhan yang saling mengatur. Apabila “udara” tersebut meninggalkan badan untuk selama-lamanya, maka aòga menjadi berbeda dan tak terurus, dan badan kemudian menjadi sesosok “mayat”. Walaupun demikian, terdapat sebentuk antaryàmin, roh immanen dalam persemayaman kompleks badan, yaitu rahasia yang melampaui pencapaian kompleks tersebut, yang merupakan daya penggerak dari dorongan hati dan kehendak terhadap kompleks itu, dan antaryàmin tidak memiliki kematian. Itulah àtma.
Gàrgì menyampaikan pertanyaan yang kedua, setelah meminta izin dari para hadirin, karena rasanya kurang hormat melemparkan masalah tersebut tanpa pemberitahuan semacam itu. Pertanyaannya adalah  : “Pada apa inti bathin, atau àtma itu bersandar di masa lalu, sekarang dan nantinya, dalam alam dualitas ini ? Keinginan Gàrgì adalah untuk membingungkan Yàjñawalkya, karena ia akan dipaksa untuk mengaku, bahwa : “Kesatuan tanpa waktu, melampaui kata-kata dan tak dapat dilukiskan sama sekali”. Hal ini juga menunjukkan bahwa Gàrgì juga adalah seorang yang mahir dalam Brahmajñàna, sehingga kamu dapat menyimpulkan bahwa dalam bidang Brahmawidyà, tak ada perbedaan yang didasarkan pada jenis kelamin.
“Brahmawid atau yang menguasai kebijaksanaan Brahmik menyatakan bahwa Parabrahman itu immanen dalam àkàúa yang tak terwujudkan” kata Yàjñawalkya, demikian tangkisannya atas situasi yang hendak ditimbulkan oleh Gàrgì kepadanya. Kemudian ia menguraikan sifat dari Akûara yang tak termusnahkan itu demikian  : “Ia tidak memiliki wujud kasar, halus ataupun perubahan seperti itu; ia tidak memiliki kwalifikasi material seperti warna, bau, bentuk dan sebagainya. Tak ada “ukuran” untuk memahaminya. Mengapa teliti seperti itu ? Matahari dan ke - lima unsur semuanya menyelenggarakan kehendak-Nya.” Gàrgì kemudian minta kepada sidang Bràhmaóa tersebut untuk membungkuk di hadapan Yàjñawalkya dan mengakui keunggulannya, dan terhentilah pertanyaan-pertanyaan selanjutnya.
Àtma adalah kesemarakan, seperti matahari dengan sifatnya sendiri. Orang-orang mengatakan bahwa mereka “melihat” àtma atau kesemarakan-Nya; tetapi, tak ada yang melihat-Nya, karena Ia tak memiliki yang kedua yang berada di luarnya. Ia tak dapat dilihat dan Ia pun tak dapat melihat. Ia tak memiliki organ penglihat ataupun pembau; ataupun sesuatu bagian yang apabila bekerja sama dapat melaksanakan suatu fungsi tertentu. Dari kebahagiaan yang terendah hingga Brahmànandam yang tertinggi, setiap langkah merupakan penambahan dari perasaan. Kata-kata seperti paramànandam, hanya menyatakan tahapan dari ànandam. Kenyataannya, semua type ànandam berasal dari sumber dasar awal dari brahmà-nandam. Yàjñawalkya menjelaskan hal ini semuanya kepada raja Janaka, karena ia sangat senang dalam mengajari sang raja mengenai semua hal yang diketahui.
Seperti sebatang pohon yang tumbuh dari sebutir benih yang kecil, badan tumbuh dan benih dalam buah tumbuh menjadi pohon yang lain, apabila badan seperti sebutir buah masak yang jatuh ke tanah. Wàk dan indriya lain,  juga mengikutinya; demikian pula nafas yang mengambil jalannya sendiri. Hanya àtma sajalah yang tak terpengaruh oleh salah satu cara tersebut. Ia selamanya tetap, tak bergerak, tak dapat digerakkan. Melalui perbuatan dosa timbullah dosa dan melalui perbuatan bajik, timbullah kebajikan, demikianlah pàpà dan puóya bertimbun. Kesemuanya menghasilkan dorongan-dorongan bagi sesosok badan baru, sebagai daya penggerak awal dari Úarìra. Àtma meninggalkan badan yang tua, dengan pandangan yang diarahkan pada badan yang baru yang ditempatinya, seperti ulat yang memantapkan kaki depannya. Namun, seorang Àtmajñàni, tidak memiliki dorongan terhadap kegiatan badan sehingga àtma dalam kasus ini tidak dicemaskan oleh badan sama sekali. Jñànamarga merupakan jalan dari Brahmawid, atau yang mengetahui Brahman.
Kegairahan karma dituntun menuju tapas, dan seorang àtmajñàni telah terlepas dari kàma atau keinginan sehingga pikirannya tak mengenal rasa takut, sengsara ataupun kerinduan, yang merupakan tanda dari tapas. Ia adalah Wiswakartha, yaitu benar-benar seniman yang telah berkembang dari wiswa atau ciptaan. Dia yang telah mencapai visi ke-Brahman-an, tak ada suatu hal lagi yang harus dicapai, diwujudkan, dilindungi ataupun dicari.
Ajaran yang diberikan Yàjñawalkya dalam Upaniûad ini kepada Maitreyì, istrinya, memperlihatkan kepada kita secara jelas àtmayajña yang datang sesudah mempelajari úàstra-úàstra dengan Tarka sebagai suatu penuntun yang konstan; yang juga menguraikan tentang prinsip-prinsip saònyàsa, yang merupakan peralatan guna pencapaian jñàna tersebut. Keseluruhan dunia indriyani dan indriya-indriya itu sendiri juga harus dipersamakan dengan realitas mimpi saja, dan perlu mengejarnya sebagai hal yang terakhir dan bernilai.
Àtma itu sendirilah yang harus di cintai; dan semua yang lainnya dicintai demi àtman itu saja. Bila àtman dipahami, segala sesuatu yang lainnya juga terpahami. Semua akibat diatur oleh penyebab. Lautan merupakan tujuan dari semua air, demikian pula semua rasa (kecap) mendapatkan tujuannya pada lidah; semua bentuk mewujudkan dirinya pada mata; semua suara bagi telinga, dan semua ketetapan memiliki pikiran sebagai tujuannya sehingga segenap jagat bergabung dalam Brahman.
Dalam jawabannya kepada Bhujyu, Yàjñawalkya memperlihatkan pengetahuannya tentang proses evolusi dari alam semesta, atau Brahmàóða-nirmana. Dalam jawabannya terhadap dua pertanyaan Gàrgì ia memperlihatkan dan mengajarkan swarùpa dari Brahman yang merupakan aparokûa. Dalam Sakalyabrahmaóa, sang bijak telah mengejutkan setiap orang dengan pengetahuannya dalam misteri spiritual. Ia memperoleh kemenangan dalam balairungnya raja Janaka dari yang terbijaksana negeri itu. Ia menyucikannya dengan ajarannya. Ia mendapat ujian berat dari Bhujyu yang curang dan ujian yang lebih berat lagi dari penanya yang ingin tahu, yaitu Gàrgì, dengan ketrampilan dan kemampuan yang sebanding. Ia dinyatakan sebagai mahkota permata dari para sarjana. Sudah barang tentu, ia sendiri mengakui kehebatan di mana pun ia menemukannya lagi dan ia cukup murah hati untuk mengakui kehebatan dari para guru yang mengajar raja Janaka sampai pada waktu itu. Akhirnya ia merasa bahwa ia ingin lagi untuk belajar, sehingga ia menjadi seorang bhikûu. Dengan kenyataan yang demikian itu, Maitreyì, istrinya juga menginginkan untuk mencapai realisasi, dan ia mengajarkannya Brahmajñàna, karena pada waktu itu, wanita dianggap sama pantasnya untuk melaksanakan jñàna-màrga, yang membawa pada Pembebasan abadi.


Baca juga:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar